GTN Raih Sertifikasi Rated 3 Constructed Facilities

Jakarta, 25 Juni 2020 – Sebagai perusahaan data center lokal, PT Graha Teknologi Nusantara (GTN), bagian dari PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dan joint venture (usaha patungan) dengan Mitsui & Co., Ltd, dengan kompetensi pada layanan pengoperasian dan pengelolaan Data Center, mengumumkan keberhasilan GTN Data Center dalam meraih Certificate of Conformance Constructed Facilities ANSI/TIA-942-B:2017 Rated 3 di Indonesia dari Enterprise Product Integration Pte Ltd (EPI), Singapura.

Keberhasilan ini menjadi catatan bersejarah bagi GTN Data Center karena proses sertifikasi ini pada tahap akhirnya memasuki periode pandemi virus korona yang terjadi secara global dan menjadi ujian bagi operasional sebagai data center yang siap setiap saat.

Peresmian serah terima sertifikat antara perwakilan EPI di Singapura dengan perwakilan GTN di Jakarta terbilang unik karena dilakukan secara online dengan pertimbangan kondisi pandemi Covid-19 dan berlakunya masa transisi PSBB di Jakarta dan sekitarnya. Seremoni disaksikan oleh mitra bisnis yang hadir melalui aplikasi online meeting.

Sertifikasi ANSI/TIA-942-B:2017 ini memperbaharui sertifikasi ANSI/TIA-942:2014 yang telah dimiliki sebelumnya untuk desain. Pencapaian ini seperti tongkat estafet bahwa elemen penting dari sisi infrastruktur di GTN Data Center telah memenuhi rancang bangun data center kelas dunia untuk arsitektur, mekanik, listrik, dan telekomunikasi.

Kesan dan Pesan dari CEO GTN dan EPI

“Kami berhasil peroleh sertifikasi berskala internasional ini pada waktu yang tepat seiring meningkatnya permintaan dari pelanggan atas layanan data center yang telah tersertifikasi dari sisi fasilitas. Dan kami sangat bangga dengan pencapaian ini, apalagi ini untuk kategori data center besar,” kata Wahyudi Chandra, CEO Graha Teknologi Nusantara.

“Hal ini membuktikan bahwa infrastruktur yang disediakan oleh GTN adalah salah satu fasilitas dan layanan terbaik bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam upaya bertransformasi secara digital. Pelanggan kami tidak perlu kuatir akan jaminan keamanan dari layanan GTN Data Center karena kami menerapkan standar kualitas yang ketat,” tambah Wahyudi.

“Dengan Sertifikasi Fasilitas TIA-942, GTN Data Center menunjukkan komitmen total terhadap para pelanggannya dengan memastikan bahwa GTN Data Center diberi penilaian dan disertifikasi berdasarkan standar fasilitas pusat data global terkemuka. Ketika pelanggan menempatkan infrastruktur mission critical mereka dengan GTN, mereka punya keyakinan bahwa infrastruktur mereka terlindungi oleh langkah-langkah keamanan yang kuat serta infrastruktur yang terpelihara berdasarkan TIA-942. Ini artinya, GTN Data Center dapat menjalani segala bentuk pemeliharaan tanpa perlu berhenti, yang sepenuhnya mendukung operasi 24×7. GTN memilih sertifikasi standar TIA-942 yang terakreditasi karena tidak hanya menyasar sistem kelistrikan dan mekanis tetapi juga telekomunikasi, keselamatan dari kebakaran dan faktor-faktor penting lainnya untuk infrastruktur mission critical dengan ketersediaan tinggi, ” kata Edward van Leent, Chairman & CEO, EPI Group of Companies.

Ucapan Selamat dari Para Mitra Bisnis

Berikut ulasan dari perusahaan-perusahaan yang sudah menjalin hubungan kerja dengan GTN Data Center.

“Berdasarkan pengalaman kami dalam menggunakan layanan GTN, kami mendapatkan layanan dari team GTN yang sangat responsif dan kooperatif, mulai dari, pembahasan kebutuhan, pendaftaran, perijinan masuk, pendampingan, ketersediaan fasilitas ruang pendukung seperti, ruang meeting dan Break Room, hingga dukungan yang diberikan ketika masuk ke fase operasional, termasuk juga penerapan prosedur operasi standar yang dilaksanakan secara konsisten.”

“Semoga di masa mendatang, GTN terus meningkatkan kualitas pelayanan. Bravo GTN!

Yohanes Liauw, President Director PT IDX Solusi Teknologi Informasi

“Kami mengucapkan selamat atas pencapaian GTN yang berhasil memperoleh sertifikasi Rated 3 untuk Conformance Constructed Facilities, sertifikasi ini membuktikan kegigihan GTN dalam menjaga dan mengoptimalkan pelayanan. Kami berharap pencapaian ini membawa GTN lebih handal dan terpercaya, sehingga kolaborasi kami dengan GTN dapat terus berkembang.”

“Selamat dan Sukses kepada Team GTN dan seluruh Jajaran Direksi!”

Agung Satya Wiguna, Enterprise Sales Director PT Linknet Tbk.

“Terima kasih! Kepada GTN yang selama ini telah memberikan effort dan layanan terbaik mereka sebagai penyedia jasa / layanan Colocation bagi perangkat dan server kami.” “Sehingga kami tidak perlu terjebak kepada semua keruwetan yang harus dihadapi sebagai praktisi IT. Terimakasih kepada GTN, terus maju dan sukses selalu!”

Korynsan, Senior IT Manager PT WEHA Transportasi Indonesia

“Sudah melayani certified customer sejak 2016, tapi per hari ini, EPI, client GTN akan lebih dipastikan lagi bahwa mereka tetap memakai operation Data Center yang beracuan international, bahkan sampai ke Facility Architechture, Mechanical Electrical, Telecommunication, juga per hari ini sudah mendapatkan certification baru dari Certification Rated 3 Facility by TIA.”

“Kami melihat kesungguhan pihak GTN melanjutkan misinya untuk menjadikan The Preferred Data Center Company for the all of their client tetap exist dalam pelayanan Colocation dan Disaster Recovery Centernya.”

Tjendradjaja Tungga, President Director PT Data Center Integrasi

Kiprah Data Center Lokal

GTN Data Center membangun kiprahnya di industri data center lokal dengan kajian dan penerapan standar internasional yang komprehensif ini sejak awal, sehingga keunggulan operasional tetap berada di performa terbaik. Komunitas bisnis dan mitra potensial juga menyampaikan adanya kebutuhan untuk memiliki tolok ukur yang jelas tentang penentuan kualitas fasilitas yang ada.

Dalam memberikan layanan yang andal dan stabil di era digital ini, penempatan perangkat keras dan perangkat lunak komputasi merupakan persyaratan mendasar yang wajib disertai dengan penawaran kompetitif dengan kapasitas besar dan efisiensi dalam mengelola dan memonitor sistem secara fisik. Penempatan data dalam perangkat keras dan komputasi awan juga bergantung pada keberadaan data center.

Infrastruktur Fisik GTN Data Center

Berdiri di atas lahan seluas 15.000 meter persegi, GTN Data Center sudah siap untuk “hyperscale computing” dengan instalasi yang tersedia di gedung dua lantai berkapasitas 2.000 rak server. Layanan GTN Data Center terus dijaga standar dan kualitasnya untuk memenuhi kebutuhan pengguna dari berbagai sektor industri dengan permintaan daya komputasi yang tinggi.

GTN Data Center juga menerapkan sistem keamanan teruji dari SECOM, yang merupakan standar sistem keamanan di Jepang. Kehadiran teknologi ramah lingkungan yang diterapkan di GTN Data Center adalah Cold Aisle Containment System (CACS) yang terbukti optimal dalam pendinginan perangkat di dalam rak.

Selain dua teknologi ini, GTN Data Center juga menggunakan DRUPS (Diesel Rotary Uninterruptible Power Supply), yang memberikan daya listrik cadangan terhadap dua sumber listrik utama yang redundan dan aktif bersamaan.

Semua fasilitas ini memberikan kepastian dan kenyamanan bagi para pelanggan serta memastikan kinerja perangkat TI dalam menunjang kegiatan operasionalnya.

Komunikasi Daring Selama Pandemi Viruskorona

Secara sederhana, komunikasi daring adalah komunikasi atau interaksi dua atau lebih antara individual atau perangkat komputer yang terjadi secara daring (online). Pengiriman dan penerimaan pesan dilakukan dengan atau melalui jaringan internet, dengan istilah lain, dunia maya (cyberspace).

Kasus korona pertama di Indonesia dari jenis SARS-CoV2, yang menjangkiti WNI pertama kali ada dua kasus, yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah pada 2 Maret 2020. Untuk tanggap cepat dalam membatasi penyebarannya, beberapa wilayah di Indonesia memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara gradual.

Sejak pertengahan Maret sampai awal Mei 2020, serangkaian restriksi terhadap ruang gerak penduduk dan penutupan sejumlah besar tempat-tempat komersil seperti perkantoran dan mal-mal, serta tempat keramaian lainnya di Jakarta dan kota-kota lainnya serta transportasi antarpropinsi, membuat sebagian besar penduduk yang tinggal di zona merah dan kuning menghabiskan sebagian besar waktu di rumah saja.

Bagaimana Pola Komunikasi Daring Selama Pandemi Viruskorona?

Dengan terbatasnya ruang gerak di luar rumah, masyarakat mesti beradaptasi dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam hal kebiasaan berbelanja dan konsumsi hiburan.

Dampak negatif Covid-19 terhadap industri dan kegiatan komersil lainnya terjadi hampir secara merata terhadap berbagai bidang layanan dan produk.

Bisa dikatakan hanya industri makanan dan minuman, kesehatan dan logistik yang menjadi penggerak kegiatan perekonomian, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain.

Masyarakat pun mulai melakukan kebiasaan “baru” yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ada 2 hal yang menonjol yang banyak dilakukan, yaitu:

  1. Melakukan internet dan video call. Yang dipakai adalah aplikasi Whatsapp untuk chat, berbagi info dan panggilan video. Dan, Zoom mendadak populer sebagai aplikasi video yang “dianggap nyaman dan mudah” dipakai untuk mereka yang masih bekerja dari rumah dan perlu koordinasi dengan rekan-rekan sejawat, maupun diluar urusan pekerjaan, sehingga muncul tagar populer #workfromhome dan #dirumahaja.
  2. Menonton “film streaming”. Karena tidak bisa menikmati tayangan film, maka layanan “video streaming” besutan perusahaan Amerika dan lokal menjadi tumpuan masyarakat untuk menikmati film/sinetron atau cerita pendek yang bersifat eksklusif.
  3. Yang ketiga masih terkait dengan nomor 1, yaitu masyarakat menggunakan internet untuk mendapatkan informasi terkini baik terkait pandemi viruskorona mapun informasi lain yang terkait dengan produk maupun jasa.

Dunia yang terhubung dengan internet, telah mendorong masyarakat untuk melakukan hal-hal kreatif yang bisa menolong mereka melalui hari demi hari lebih mudah dijalani untuk terus tinggal di rumah karena masih terhubung dengan dunia luar secara daring. Ini diprediksi akan menjadi kebiasaan baru.

Periode pandemik viruskorona ini juga menjadi masa percobaan bagi perusahaan-perusahaan yang mau tidak mau menerapkan kerja dari jarak jauh. Apabila perusahaan dan karyawan melihat bahwa hal ini bisa dilakukan dan memberi efek positif pada produktivitas, maka tidak tertutup kemungkinan melahirkan perubahan dalam budaya kerja/kantor. Di Indonesia, sebelumnya kerja jarak jauh belum menjadi sesuatu yang lumrah dibanding negara-negara maju.

Pada bidang pendidikan, online learning menjadi jembatan bagi generasi muda berpendidikan untuk melanjutkan studi mereka secara mandiri namun tetap terstruktur dan terbimbing.

Kegiatan belajar mengajar banyak mengandalkan perangkat komputer dan internet. Gaya komunikasi berubah. Guru-guru mendapat tantangan dalam waktu singkat untuk menyiapkan pola/metode, alat dan cara penyampaian yang efektif dan bisa dipahami oleh siswanya.

Dibidang kesehatan, teknologi digital dari perusahaan global maupun lokal berupaya keras memberikan solusi yang bisa mengurangi penyebaran vrus korona dengan aplikasi yang bisa memberikan data secara live seperti peta dan pola penyebaran covid-19, lokasi dan pergerakan mereka yang menjalani isolasi diri dan karantina medis untuk memantau lokasi pergerakan individu maupun pasien.

Bidang logistik dan pemesanan daring menjadi cara bagi masyarakat dan produsen untuk berinteraksi secara aman dengan adanya ketentuan jaga jarak. Masyarakat bisa memilih dan memesan produk yang dibutuhkan, kemudian produsen atau retail akan menggunakan ekspedisi atau kurir untuk mengirimkan sampai ke alamat.

Jenis data agregat dan anonim akan sangat membantu pejabat kesehatan dan lokal dalam membuat keputusan penting untuk mengurangi tingkat penyebaran.

Ketersediaan Akses Luas Internet

Ketersediaan kuota internet akan menjadi beban yang meningkat bagi penyedia jaringan dan masyarakat pengguna internet. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk pemakaian yang lebih panjang dan menghabiskan kuota lebih cepat apalagi dikaitkan dengan penggunaan video.

Beban akses internet yang dipakai secara bersamaan pada waktu tertentu, terutama sore dan malam hari akan menyebabkan turunnya kecepatan internet, sehingga mengurangi kenyamanan komunikasi sinkron atau komunikasi yang bersifat bolak-balik secara langsung atau live. Hal ini penting untuk koordinasi dan kegiatan bekerja dan belajar secara daring.

Percepatan adopsi teknologi dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih luas sampai kepada komunitas atau masyarakat yang paling kecil.

Pandemi viruskorona merupakan bencana atau kejadian alam, yang sangat berbeda dibandingkan bencana lainnya. Masa pandemik yang berlangsung lebih dari 3 bulan bisa saja akan membuat kebiasaan baru yang disebut di atas menjadi kegiatan normal yang baru dan membuat perubahan sosial yang mendasar.

Sejarah Singkat Indonesia Internet Exchange (IIX)

Pertumbuhan jaringan internet di Indonesia memerlukan manajemen yang baik untuk mengiringinya sehingga bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia yang besar populasinya dan tersebar di seantero wilayah nusantara, sehingga lahirlah konsep Indonesia Internet Exchange (IIX) ini.

Dalam Wikipedia menyebutkan, Indonesia Internet Exchange (IIX) merupakan wadah untuk menyatukan seluruh jaringan yang dioperasikan oleh internet service provider (ISP) sehingga tidak mesti melalui jalur-jalur transit yang terhubung ke luar negeri tetapi kemudian kembali lagi ke jaringan Indonesia. Dikatakan bahwa ini merupakan konsep yang pertama kali di dunia.

Sejarah Berdirinya APJII

APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) menjadi kelembagaan yang mengatur soal IIX ini secara sukarela dan nirlaba untuk membentuk jaringan interkoneksi antara berbagai ISP yang mempunyai izin operasi di Indonesia, dengan peningkatan fasilitas dan kemampuan sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Di Juni 1996, APJII membentuk gugus tugas yang terdiri dari teknisi top dari masing-masing ISP dan Cisco untuk mengembangkan internet exchange sehingga semua ISP yang ada terhubung secara tunggal (single internet exchange point) dan IIX secara resmi diluncurkan pada Agustus 1997.

APJII ini terbentuk dari 27 ISP yang mendapat lisensi dari pemerintah Indonesia dan Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung di Maret 1996 dan bekerja sama dengan regulator, yang menerbitkan Tarif Konektivitas Internet untuk pengguna akhir pada Mei 1996 dan berlaku sampai hari ini.

Dukungan Pelaku Industri Internet

Sasaran yang ingin dicapai dengan adanya IIX antara lain:

  1. Efisiensi interkoneksi antar penyelenggara jasa internet (PJI) di dalam negeri dalam hal biaya dan kecepatan untuk lalu lintas informasi nasional.
  2. Kemandirian dalam hal kendali penuh atas jaringan dan koneksi alternatif ketika jaringan ke luar negeri mengalami masalah.
  3. Jaringan pita lebar yang tinggi yang tersedia diharapkan menjadi insentif bagi penyedia konten (content provider) dalam dan luar negeri untuk menempatkan datanya di data center dalam negeri.

Penyelenggara jasa internet Indonesia menyediakan koneksi ke internet melalui tiga perusahan Indonesia Network Provider (INP) yaitu: Telkom, Indosat dan Satelindo, yang berpusat di Jakarta.

Dengan tiga titik simpul, penyelenggara jaringan internet (PJI) mempunyai kehandalan dalam keterhubungan dengan jaringan yang ada, dalam hal salah satu titik simpul mengalami masalah dan PJI mempunyai pilihan untuk terhubung dengan titik simpul yang terdekat.

Karena APJII bersifat mandiri tanpa pendanaan dari pemerintah, organisasi ini memerlukan pendanaan dari pihak-pihak eksternal, melalui sponsorship dari vendor teknologi internasional untuk kebutuhan seperti router, switch, hub, server dan software, yang antara lain disediakan oleh Cisco, Hewlett Packard, Microsoft, RAD dan Digital. IP exchange blocks for routing disediakan oleh Bill Manning dari isi.edu.

Pencapaian yang sudah didapatkan dari adanya IIX ini adalah jarak antara ISP di Indonesia yang tadinya 12 hops berkurang menjadi hanya 4 hops. Hop mengacu pada jumlah perangkat perantara (router) dimana paket data lewat dari sumber ke tujuan.

Pertumbuhan Domain Indonesia

Domain atau nama di internet yang khas Indonesia yaitu .id merupakan salah satu indikasi bertumbuhnya perusahaan dan mereka yang ingin terhubung ke internet, yang berkaitan dengan pertumbuhan server internet lokal dan pengguna internet di Indonesia.

Sebelum hadirnya IIX, antara Januari 1995 – Agustus 1997, ada terdapat 740 domain, dengan rata-rata pertumbuhan 23 domain per bulan.

Sementara antara Agustus 1997 – Desember 1997, dengan diluncurkannya IIX, jumlah domain melonjak dari 740 menjadi 1053, atau rerata 171 domain per bulan.

Ketika Indonesia didera krisis moneter sepanjang 1998, pertumbuhan domain korporasi malah menunjukkan peningkatan sebesar 100%, dari 1053 menuju 2115.

Ini menjadi salah satu indikasi kalau domain yang terhubung dengan IIX merupakan alternatif untuk melewati krisis.

Padahal, top level domain Indonesia yang dipakai pada waktu itu berakhiran co.id menerapkan persyaratan yang lebih ketat dibanding dengan pendaftaran berakhiran .com. Hanya perusahaan yang menyerahkan persyaratan lengkap bisa mengajukan nama domain yang sama seperti nama legal perusahaan.

IDNIC (Indonesian National Internet Registrar) merupakan organisasi yang awalnya berada dibawah Universitas Indonesia, dengan penugasan untuk menerima pendaftaran secara profesional dan bertanggung jawab untuk memberikan alokasi IP di Indonesia.

Saat ini, PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) hasil bentukan komunitas internet Indonesia bersama pemerintah Indonesia pada 29 Desember 2006 untuk registrasi domain .id.

Secara resmi, Departemen Komunikasi dan Informatika RI pada 16 September 2014 menyerahkan seluruh pengelolaan domain internet di Indonesia kepada PANDI, dengan pengecualian ekstensi .go.id dan .mil.id, sebagai registry nama domain tingkat tinggi di Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, Pandi sudah mengelola berbagai domain ekstensi Indonesia, yaitu domain go.id, ac.id, net.id, sch.id, biz.id, desa.id, my.id, net.id, or.id, mil.id, web.id, dan ponpes.id.

Dalam perkembangan terkini per 2019, jumlah pengguna domain .id mengalami peningkatan sebesar 45 persen sehingga mencapai total nama 135.812.

Data di Pandi per April 2019, mencapai 111.059. Jumlah ini sudah menyalip pengguna domain co.id yang tercatat 110.111. Selain karena kemudahan administrasi untuk pendaftaran .id dibanding co.id, penggunaannya juga bisa lebih luas segmennya, mulai dari personal, perusahaan, organisasi, profesional dan lain sebagainya, untuk Indonesia dan luar negeri.

Upaya GTN Mencegah Penularan Virus Corona

Beberapa hari yang lalu, virus Corona atau dikenal di dunia sebagai coronavirus (Covid-19) telah terkonfirmasi pada 2 orang terdampak di Indonesia, khususnya daerah Jabodetabek. Hal ini tentu mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan bagi kita semua.

Penyebaran dan Kontaminasi Virus Corona

Tidak lama sebelumnya, insiden pertama kali dilaporkan pada 31 Desember 2019, di Kota Wuhan, Propinsi Hubei, China. Selanjutnya menjadi kejadian luar biasa (outbreak) karena tingkat penyebaran yang cepat. Virus Corona (Korona) menurut WHO (World Health Organisation) adalah sekelompok besar keluarga virus, yang bisa menyebabkan sakit mulai dari flu biasa sampai penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respitory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respitory Syndrome (SARS-CoV). Virus yang sekarang sedang menjangkiti berbagai negara masih diklasifikasikan sebagai novel coronavirus (nCoV) karena sebelumnya belum teridentifikasi berjangkit pada manusia.

Sejauh ini, dunia medis menyebutkan penularan virus korona adalah melalui droplet atau percikan dari batuk atau bersin dari seseorang yang positif terjangkit. Virus dalam droplet akan masuk ke tubuh melalui mulut, hidung atau mata, seperti ketika ada seseorang yang menyentuh tempat atau permukaan yang terkena droplet atau percikan itu dan menyentuh lagi wajahnya dengan tangan sendiri yang sudah terkontaminasi. Pencegahan yang lebih serius tentu harus dilakukan oleh diri sendiri.

Dalam mencegah penyebaran infeksi, sangat disarankan untuk mencuci tangan secara berkala, menutup hidung dan mulut ketika bersin dan batuk, memasak daging dan telur sampai matang sepenuhnya. Penggunaan masker akan mengurangi resiko penularan antar manusia. Dari WHO, organisasi kesehatan dunia dibawah naungan PBB juga menyarankan agar mencuci tangan selama 20 detik dengan air mengalir dan sabun. Dan seperti yang disampaikan di atas, mencuci tangan dengan hand sanitizer yang mengandung antiseptic akan menjadi salah satu cara demi menekan pertumbuhan bakteri.

GTN Ambil Langkah Antisipatif Mencegah Penularan

Sebagai lokasi yang kerap dikunjungi oleh banyak orang, GTN Data Center juga ikut memastikan penerapan tindakan pencegahan yang cukup untuk menghindarkan dampak penularan virus Corona di dalam area data center dengan cara-cara:

  1. Memastikan penggunaan masker atau pelindung muka lainnya.
  2. Memastikan penggunaan hand sanitizer atau antiseptic pembersih tangan lainnya.
  3. Melakukan pengukuran suhu tubuh. Suhu normal menurut referensi medis adalah 37,5 derajat Celcius.
  4. Melakukan tindakan pencegahan tambahan yang diperlukan terhadap pengunjung atau karyawan yang terduga terkena Covid-19.

Selain itu, mengikuti perkembangan terkini yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan resmi yang berkompeten menjadi cara untuk antisipatif dari waktu ke waktu. Lebih baik juga bagi siapapun yang mempunyai batuk dan flu serta suhu tinggi, yang sulit pulih untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit dan istirahat sepenuhnya.

GTN Data Center berusaha menyediakan layanan yang terbaik bagi seluruh pihak yang berada dalam lingkungan kerja dan pihak-pihak atau para mitra yang mengadakan kunjungan kerja dan bisnis.

Gagasan Transformasi Digital Menuju Revolusi Industri 4.0

 

Perkembangan industri di dunia mendapat dorongan dan percepatan dari teknologi informasi yang membuat semua perangkat elektronik dan mekanik bisa menghasilkan data, yang bisa diolah untuk memberikan informasi yang lebih banyak dan berguna, dalam rangka mengetahui kinerja, monitoring dan lain sebagainya. Inilah yang melatari revolusi industri 4.0.

 

Revolusi industri 4.0 ini merupakan penerapan otomatisasi manufaktur dengan perhitungan yang lebih efisien dan akurat sumber daya, waktu, biaya yang diperlukan untuk produksi. Pertukaran data dilakukan secara on-time dan real-time melalui jaringan internet. Pemantauan dapat dilakukan dari mana pun dan kapan saja.

 

Era industri 4.0 ini ditandai dengan semakin banyaknya inovasi untuk Internet of Things (IoT), big data, artificial intelligence (kecerdasan buatan), percetakan 3D, rekayasa genetika, robot dan machine learning (mesin pembelajaran). Data menjadi fondasi dari inovasi digital.

 

Salah satu pencapaian terbesar dari transformasi digital adalah semakin meningkatnya kemampuan komunikasi antara mesin, perangkat, sensor dan manusia melalui jaringan internet sehingga aktivitas sehari-hari yang tadinya hanya bisa dilakukan pada perangkat atau mesin yang besar dan kompleks, kini bisa dilakukan melalui aplikasi yang terpasang pada alat komunikasi genggam (mobile phone) atau perangkat ringkas canggih lainnya.

 

Bersamaan dengan itu adalah big data, yang mencakup semua informasi yang berada dan tersimpan pada komputasi awan (cloud computing).

 

Kehadiran IoT dan big data memberi wawasan yang lebih baik bagi pengambil keputusan di lapangan dan manajemen secara holistik.

 

Big Data dan Infrastruktur TI

 

Big data membutuhkan kemampuan komputasi dan penyimpanan yang mumpuni, yang pada ujungnya mendorong pengembangan media penyimpanan, infrastruktur jaringan, dan cara-cara baru untuk menangani kebutuhan komputasi yang selalu meningkat.

 

Sistem Penyimpanan

Dalam hal kapasitas, ukuran data yang dimaksud sudah mencapai satuan petabyte dan meningkat dengan cepat. Untuk itu, media penyimpanan mesti memiliki skalabilitas dan fleksibilitas yang tinggi tanpa menurunkan atau menghentikan operasi sistem dalam rangka peningkatan.

Untuk analisa Big Data artinya melakukan banyak tracking berbagai data dari sumber yang dinamis seperti media sosial, media dan transaksi online, yang sering dipakai untuk mengambil keputusan strategis dalam waktu yang hampir bersamaan (Real time).

 

Konektivitas Jaringan

Karenanya, Big Data juga akan memberi dampak yang besar pada infrastruktur jaringan. Data center besar sudah mempunyai kemampuan untuk menanganinya dengan WAN dan SD-WAN untuk kebutuhan bandwidth ini. Jika sebelumnya, interaksi antara aplikasi dan data center ini berdasarkan pada permintaan yang dilakukan oleh manusia, yang relatif kecil bila dibandingkan aliran Big Data. Karenanya, network upgrade dan bandwidth adalah hal yang ada di depan mata.

 

Latency

Fasilitas penyimpanan Big Data idealnya mempunyai nilai latency yang rendah; kalau sebaliknya, bisa mengakibatkan data terkini menjadi tidak bernilai (data basi). Pengolahan data terkini (real-time) menjadi kebutuhan dalam berbagai aplikasi, yang mana salah satunya dengan flash based storage system.

 

Aksesibilitas ke Big Data adalah aspek krusial mengingat data yang masuk dan keluar berada pada berbagai platform dan tersimpan pada hosting yang tersebar. Perpaduan dan pengolahan data ini akan memberikan satu gambaran besar yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

 

Keamanan

Kendala dengan data yang sedemikian besar adalah tingkat keamanan untuk mengatasi skenario TI yang sudah ada dan potensi timbul di kemudian hari. Keamanan penyimpanan ini membutuhkan penanganan dengan penerapan standar atau baku yang handal tanpa mengorbankan latency dan skalabilitasnya.

 

Biaya

Dari semua faktor yang perlu diterapkan di atas, biaya adalah kekhawatiran yang logis untuk menyimpan Big Data, yang eksplisit dari istilah itu sendiri. Saat ini, di luar sana sudah tersedia teknologi yang bisa mengefisienkan penyimpanan data melalui metode de-duplikasi, data redundancy, maupun membangun perangkat keras TI berdasarkan kebutuhan (custom hardware).

 

Pada akhirnya, ini kembali pada proses awal, yaitu perencanaan dan rekayasa sistem penyimpanan untuk memastikan bahwa perhatian pada detail untuk kebutuhan sekarang dan masa depan. Aplikasi analitik adalah perangkat lunak yang akan dipakai untuk integrasi dan migrasi Big Data. Sistem penyimpanan perlu desain yang sedemikian rupa sehingga tidak perlu migrasi data ketika diperlukan perbaikan.

 

Peran data center tidak hanya sekedar semua aset TI dikelola dan dioperasikan, jaringan yang ada bisa menjadi pusat pertukaran informasi yang bisa diakses satu sama lainnya melalui skema bisnis atau kerja sama dalam bentuk kepemilikan, penyewaan dan langganan.

Mengenal Tentang Disaster Recovery Center (DRC)

disaster recovery as a service

Membaca istilah tersebut, yang muncul di benak adalah apa itu Disaster Recovery Center atau sering disingkat juga DRC? Dan ada sebagian lagi yang menyebutnya situs pemulihan bencana. Apa fungsinya dalam membantu bisnis atau organisasi dalam keadaan darurat?

Untuk itu pembahasannya akan dikemas dengan informasi yang sebaiknya diketahui oleh pemilik dan manajemen perusahaan serta administrator IT dan mereka yang mempunyai kepentingan untuk itu.

Eksistensi Disaster Recovery Center itu sebagai apa?

Untuk perusahaan dengan skala operasi yang luas dan kompleks dan pemerintahan, disaster recovery center merupakan salah satu perencanaan kontingensi dalam menghadapi situasi bencana dan kejadian luar biasa lainnya, dengan penempatan perangkat TI, sistem, aplikasi dan data sebagai backup (cadangan) pada tempat atau lokasi yang terpisah.

Perusahaan dan pemerintahan yang memberikan pelayanan kepada konsumen dan publik mempunyai resiko dalam hal sistem informasi internal mengalami kelumpuhan operasional dan hal ini bisa menyebabkan gangguan yang berujung pada kerugian secara finansial karena terhentinya aktivitas ekonomi dan aspek keamanan data dan jaringan.

Dengan keberadaan disaster recovery center, misalnya gangguan kelistrikan internal ataupun putusnya jaringan listrik, manajemen IT bisa mengalihkan seluruh aktivitas operasi ke colocation data center seperti GTN Data Center.

Persyaratan dan Ketentuan Disaster Recovery di Indonesia

Faktor utama yang menentukan pilihan DRC yang akan dipakai adalah lokasi. Ini untuk menentukan jarak fisik antara situs utama dan DRC. Berdasarkan praktik terbaik yang diterapkan secara umum adalah dalam radius 60 kilometer dari pusat operasi. Dalam praktek, ada juga yang menganjurkan radius antara 30 dan 50 kilometer.

Lokasi dengan radius tersebut dari Jakarta berada di Bekasi, Tangerang, Bogor dan Depok, dengan kontur masing-masing.

Dengan angka yang berbeda tersebut, tentunya pengukuran dan pengujian lebih detail oleh pemangku kepentingan akan menghasilkan data yang lebih baik berdasarkan infrastruktur yang tersedia di lapangan.

Jarak yang lebih pendek akan memudahkan, mempercepat, mengurangi resiko data yang rusak atau hilang dan data real-time yang lebih efektif, yang merupakan latency jaringan. Akan tetapi kedekatan ini akan menimbulkan ancaman tersendiri terkait bencana atau peristiwa darurat yang terjadi.

Syarat-syarat teknis yang bisa mendukung peran dan kapasitas sebagai data center recovery ini selayaknya mengacu pada kepatuhan yang ditetapkan oleh PCI DSS dan ISO 27001, karena transaksi keuangan rentan terhadap intensitas serangan siber. GTN Data Center sendiri menyandang sertifikasi PCI DSS 3.2.

Sebagai DRC yang handal, jaminan ketersediaan layanan 99,999% juga merupakan tolok ukur. Untuk itu, minimal mempunyai sertifikasi Tier 3 dari Uptime Institute, atau Rated 3 dari TIA-942.org, dengan SLA 99,982% sementara untuk Tier 4, SLA 99,995%.

Regulasi mengenai disaster recovery center ini sejauh yang bisa ditelaah mengatur sektor perbankan dan fintech (financial technology), yang tertuang dalam peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 yaitu pasal 25 ayat 2, yang mengharuskan adanya pusat pemulihan bencana dan menyebutkan juga bahwa lokasi data cadangan harus berada di Indonesia.

Dalam ketentuan sebelumnya yang lebih tinggi dalam hukum Indonesia, yaitu PP Nomor 82 Tahun 2012 juga mewajibkan keberadaannya secara infrastruktur di Indonesia. Tetapi dengan terbitnya PP No. 71 Tahun 2019 sebagai revisi atas PP sebelumnya, maka kewajiban bahwa disaster recovery center di Indonesia akan melihat pada kategori yang akan disimpan sebagai cadangan apakah data publik atau data privat.

Solusi Disaster Recovery as a Service (DRaaS) untuk Perusahan dan Organisasi

Dengan perkembangan teknologi TI saat ini, mitigasi resikonya tidak lagi terbatas staf TI yang melakukan perjalanan ke DRC atau memindahkan data ke perangkat penyimpanan.

Bagi perusahaan dengan skala bisnis menengah, saat ini sudah memungkinkan untuk memiliki disaster recovery center melalui penyedia pihak ketiga, baik dalam bentuk fisik maupun virtual (cloud), yang siap mendukung tim TI internal.

Bagi sektor usaha menengah, disaster recovery yang berjalan di platform cloud akan memberikan keleluasaan dalam penyesuaian dengan biaya dan teknis yang dibutuhkan.

Dengan mengetahui manfaat dan kelebihan solusi Disaster Recovery as a Service (DRaaS) ini, perusahaan dan organisasi mempunyai wawasan untuk mengembangkan transformasi digital yang terpadu untuk Business Contingency Plan (BCP) demi kelangsungan bisnis atau operasi tanpa henti.

Mengingat bencana dan kondisi darurat lainnya karena faktor teknis dan manusia tidak bisa dipastikan kapan terjadi, faktor pemulihan (recovery) yang bisa dicapai dengan solusi DRaaS adalah hitungan menit. Downtime adalah hal pokok yang harus dihindari, minimal perusahaan akan menetapkan standar downtime yang masih bisa ditolerir.

Dalam disaster recovery plan, perkiraan RTO (Recovery Time Objective) dan RPO (Recovery Point Objective) bisa membantu dalam analisa dampak bisnis dari downtime yang terjadi, baik yang terjadwal maupun yang tidak terduga.

Dengan virtualisasi DRaaS ini, perusahaan akan mempunyai akses ke aset virtual untuk perangkat lunak dan keras, atau menyerahkan sepenuhnya kepada pihak ketiga. Penghematan yang didapatkan adalah lisensi untuk perangkat yang ada, sumber daya listrik yang terjamin dan bandwidth skala korporasi.

Dengan solusi DRaaS, berbagai skenario pemulihan memberikan pilihan dalam hal bagaimana menangani bisnis dengan sistem yang berbeda.

Untuk kehandalan operasional DRaaS, data center tidak hanya update terhadap perkembangan teknologi, dan kepatuhan pada standarisasi yang berlaku, tetapi juga efisiensi yang dapat diukur dan diuji secara berkala.

Pusat Data di Indonesia Guna Meraih Manfaat Maksimal

Di era digital sekarang ini, kita akan menemukan data elektronik yang berasal dari berbagai sumber. Data ini dikumpulkan, disimpan dan diproses secara kuantitas dan kualitas dalam tahapan yang semakin kompleks sehingga dikenal istilah Big Data.

Potensi Pengguna Internet di Indonesia

Disebutkan bahwa pengguna internet saja menghasilkan milyaran data per harinya. Dalam beberapa referensi online ditulis sebesar 2,5 quintillion. Apabila 1 milyar terdiri dari sembilan bilangan Nol (0), maka satuan quintillion terdiri dari 18 bilangan Nol.

Kebutuhan yang tersangkut dengan data pun akan menunjukkan trend dengan grafik yang menanjak. Bila Indonesia ingin menjadi bagian dari pertumbuhan pusat data di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik, pemerintah dan sektor harus mengambil inisiatif untuk menfasilitasi dan membangun infrastruktur yang mendukung kemajuan ke depan.

Dilansir dari media online Tirto.id, Singapura menjadi lokasi pusat data nomor satu dan terbaik di Asia Tenggara. Beberapa perusahaan global seperti Amazon, Google, Facebook, Microsoft, Alibaba, Tencent, IBM membangun pusat data sendiri di negara pulau seluas lebih besar dari Jakarta ini. Mengapa dibangun di Singapura?

Pertumbuhan pengguna di wilayah Asia Tenggara menjadi alasan Google mengambil keputusan tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh Facebook. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Indonesia adalah pasar internet terbesar di Asia Tenggara. Indonesia merupakan negara kelima terbesar di dunia dalam hal pengguna internet, dengan jumlah 143.260.000 (Informasi Internetworldstats).

Berdasarkan informasi Hootsuite, pengguna internet Indonesia ada 150 juta orang. Dengan pengguna beberapa platform media sosial yang dimiliki perusahaan global tersebut mencapai diatas 80%. Instagram 80%, Facebook 81%, WhatsApp 83% dan YouTube 88%.

Dari segi infrastruktur konektivitas internet, pemerintah Indonesia baru saja meresmikan Palapa Ring, yang sering digadang sebagai Tol Langit untuk menghubungkan seluruh propinsi dan kabupaten se-Indonesia dengan kabel laut dan darat, dengan panjang keseluruhannya 57.087 kilometer.

Kesiapan dan Pembaharuan Regulasi Yang Ada

Di Indonesia, terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan data pribadi dan informasi, ada beberapa peraturan yang berlaku, yang terpisah, untuk pengaturan masing-masing sektor, yang diambil sumber informasinya dari kliklegal.com. Sebut saja diantaranya:

  1. Peraturan Bank Indonesia No. 9/15/PBI/2007 mengenai manajemen resiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh bank-bank komersil.
  2. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 11 Tahun 2010 mengenai Penyelenggaraan layanan televisi protokol internet (Internet Protocol Television / IPTV).
  3. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 36 Tahun 2014 mengenai Tata Cara Pendaftaran Penyelenggara Sistem Elektronik.
  4. Peraturan Menteri (Permen) No. 20 Tahun 2016 mengenai Perlindungan Data Pribadi (PDP) dalam Sistem Elektronik.
  5. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 4 Tahun 2016 mengenai Sistem Manajemen Pengaman Informasi.
  6. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 11 Tahun 2016 mengenai Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik.
  7. Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2019 yang menggantikan Peraturan Pemerintah No. 82/2012 mengenai Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSTE).
  8. Undang-undang No. 19/2016 mengenai perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2019 ini, terdapat revisi mengenai penempatan data. Ketentuan ini menyebutkan bahwa penempatan data yang bersifat publik dan keamanan wajib berada di data center di Indonesia.

Mengingat bahwa penempatan data lingkup privat bisa dilakukan di Indonesia dan luar Indonesia oleh penyelenggara sistem elektronik berdasarkan PP ini, beberapa asosiasi yang berkaitan dengan industri data center dan telekomunikasi mengajukan judicial review mengingat hal tersebut akan mempengaruhi iklim pengembangan data center dan yang terkait dengannya menjadi tidak pasti untuk pelaku di dalam negeri.

Bagaimana pun sektor swasta baik lokal dan internasional, seperti GTN Data Center mempunyai peran yang besar dalam mengelola data pribadi ini dalam kegiatan bisnis. Kedaulatan data tidak akan berjalan sepenuhnya menjadi kekhawatiran bagi beberapa pelaku industri dan kalangan profesional dan intelektual.

Menimbang antara Dedicated dan Colocation Server

Pembahasan istilah teknis yang disebut pada judul yaitu dedicated server dan colocation server bertujuan untuk merangkum seluruh informasi yang ada menjadi sebuah bahan bacaan yang bisa menambah wawasan bagi siapapun yang tertarik untuk mendalaminya.

Faktor-faktor apa saja yang terkait dengan keduanya merupakan penjelasan yang akan diuraikan lebih lanjut, sehingga pertimbangan utilisasinya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Keunggulan Dedicated Server

Dalam pengertian umum, dedicated server merupakan server yang diperuntukan seutuhnya untuk satu user, tanpa berbagi sumber daya yang ada dengan user lain. Artinya, pengelolaan server sepenuhnya pada individu yang mempunyai akses, tetapi sistem operasi (Linux, Windows), tipe perangkat, bandwidth dan fitur keamanan, backup dan keamanan data sudah tersedia sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada. Dalam tahap layanan yang paling dasar adalah unmanaged dedicated server. Dukungan teknis hanya diberikan sampai pada tahap tatanan jaringan dan hardware, instalasi dan konfigurasi pertama kali yang diperlukan.

Bagi yang memilih dedicated server adalah pertimbangan memiliki lebih banyak sumber daya ketika dibutuhkan dan tidak berbagi untuk bandwidth dan disk space.

Untuk dedicated server management plan, operator data center menyediakan lagi rangkaian layanan yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan tambahan kepada pelanggannya dengan tingkatan keamanan data dan jaringan yang lebih tinggi, proteksi dari DDOS, instalasi aplikasi dan layanan lainnya. Paket dedicated server service ini merupakan langkah strategis tanpa perlu memikirkan biaya diawal untuk investasi pada perangkat keras TI, tetapi bisa mendapatkan infrastruktur TI yang kuat dan terjangkau.

 

 

Hal utama yang menjadi keunggulan dedicated server adalah garansi pergantian hardware dalam kejadian gagal fungsi dengan SLA yang berbeda antara penyedia yang satu dengan yang lainnya, bisa dalam hitungan jam.

Dedicated server berperan untuk menjalankan aplikasi yang berat dengan beban kerja yang tinggi, yang tidak bisa dipenuhi oleh layanan yang berbasis VPS dan shared hosting. Perusahaan yang mempunyai data base yang besar dan berbagai aplikasi yang dijalankan akan membutuhkan penyewaan dedicated server, yang ditempatkan pada data center yang standar keamanan fisik dan virtual baik.

Rak Server

Keunggulan Colocation Server

Colocation server mempunyai pengertian yang berbeda dari dedicated server. Colocation mempunyai korelasi dengan lokasi fisik yang digunakan untuk penitipan server pada data center. Untuk colocation tersedia beberapa tipe rak yaitu Per U, Half Rack dan Full Rack (1, 2 dan 4 server). Model penempatan ada dua model yaitu rack dan cabinet.

Pemilihan rack ini merupakan keputusan pengguna yang menyewa berdasarkan kebutuhan pada saat itu dan budget yang ada. Untuk kemudahan akses fisik ke rack berbeda antara satu penyedia dengan penyedia lainnya, ada yang rack-nya sendiri mempunyai kunci masing-masing, selain lapis pengamanan yang lainnya. Ada yang cabinet-nya yang dilengkapi dengan dinding dan pintu yang terkunci setiap saat.

Colocation ini juga bisa dipadukan dengan managed solution, yang memberikan kemudahan dalam hal berikut:

  1. Sistem otomatis untuk monitoring, maintenance and troubleshooting.
  2. Bantuan tenaga ahli di data center untuk menghadapi keadaan kompleksitas keadaan darurat namun terkendala waktu dan lokasi yang jauh. Tindakan cepat seperti cabling un/plug, and power hard reboot). Lebih jauh lagi, instalasi ulang OS, konfigurasi RAID dan routine checking.

Daya listrik yang bisa disuplai ke colocation server adalah untuk mendukung kinerja sampai rack 4U.
Untuk bandwidth juga berbeda antara provider yang satu dengan lainnya, bisa berbagi (shared) dan dedicated.

Layanan colocation server di Indonesia maupun region lain idealnya untuk kebutuhan aplikasi dan website yang mempunyai aktivitas tinggi, perusahaan media dan ecommerce, dan jenis perusahaan yang butuh beragam resources dengan harga terjangkau.

Dalam konfigurasi yang lebih besar lagi adalah private and secure cage. Ruangan dan suplai listrik yang besar akan mampu menampung beberapa server rack dengan akses terbatas dan bisa dipantau melalui CCTV.

Server Kabinet

Informasi untuk GTN Colocation Server Services

Di GTN Data Center di Cikarang, Bekasi sendiri menyediakan solusi beragam yang sesuai kebutuhan untuk penempatan server dan dirancang untuk menampung server dengan IT load tinggi.

Closed rack merupakan unit yang tersedia dengan kunci masing-masing selain akses dengan pintu terkunci, dengan mengusung konsep “cold containment aisle”. Ini merupakan bagian dari 7 lapis tingkat keamanan yang diimplementasi.

Tersedia dan siap pakai juga adalah private and secure cage, yang bisa menampung 3 rack dimana 1 rack sama dengan 42U (Universal Server Rack).

Fitur dan Desain Operasional Pusat Data

Pengembangan sebuah data center didasarkan pada model dan penataan berbagai sumber daya Teknologi Informasi (TI), rancang bangun arsitektural dan keseluruhan infrastruktur yang saling berkaitan.  Jadi, selain rekayasa teknik yang tepat guna dalam konstruksi bangunan dan utilitas yang mendukung operasi, ada juga yang menjadi fokus yaitu konsep yang diterapkan untuk pengembangan dan implementasi dalam lingkup TI. Desain dan fitur pusat data ini secara umum meliputi berbagai proses kerja dan teknis, yang dituangkan dalam dokumentasi, model diagram sistem dan kombinasi antara keduanya.

Skema Dasar Pusat Data

Setiap data center memiliki dokumen dan diagram yang menggambarkan alur logis dan visual yang mencakup secara luas parameter komputasi dan non-komputasi yang ada.

Dalam bidang kapasitas untuk TI, aspek yang menjadi perhitungan meliputi:

  1. Jumlah dan tipe rak yang bisa diakomodasi
  2. Tata letak dan perangkat jaringan
  3. Perangkat lunak untuk manajemen data center agar bisa mendukung kinerja dan standar operasional.

Dalam aspek diluar TI, biasanya akan memasukkan faktor-faktor seperti:

  1. Ruang fisik untuk menampung semua peralatan yang ada
  2. Sumber listrik, sistem pendinginan dan ventilasi
  3. Keamanan fisik, disaster recovery dan rencana keberlanjutan bisnis (business continuity planning).

Manajemen Data Center

Pusat data modern hanya memerlukan tenaga profesional dalam jumlah kecil untuk melakukan manajemen kumpulan data perangkat keras sistem yang terhubung ke jaringan yang lebih besar. Data center mempunyai tanggung jawab untuk melindungi data dalam jumlah yang sangat besar dan mengamankan dari ancaman pembobolan data. Hosting server akan dikelola secara aktif dengan mengandalkan pada cara-cara yang otomatis dan mudah dimonitor sehingga memberikan penghematan dari segi pemeliharaan dan energi yang dikonsumsi. Fitur yang ada pada data center akan mendapatkan pembaharuan dari segi perangkat keras, sistem operasi, distribusi dan penyimpanan data, skema backup, rencana darurat dan tentunya dukungan teknisi.

Fitur dan Desain Ramah Lingkungan

Untuk mitigasi kepada perubahan iklim yang menjadi perhatian bagi masyarakat TI di pelosok dunia, desain dan fitur data center mengadopsi konsep ramah lingkungan dalam berbagai aspek. Konsep cold aisle containment rack merupakan salah satu implementasinya. Proses pendinginan ruangan server dengan mengatur tekanan aliran udara.

Ini merupakan instalasi rak server dan dindingnya, yang bertujuan untuk memisahkan aliran udara dingin dan udara panas. Ini sangat fungsional untuk menghadapi kebutuhan dan pertumbuhan tingkat kepadatan server yang terpasang per meter persegi, namun tetap mempertahankan suhu udara dingin yang stabil.

Dengan demikian, udara dingin yang dihasilkan bisa terpakai seluruhnya untuk mendinginkan server yang ada, sementara udara panas yang dihasilkan server langsung dialirkan ke unit penyerap panas.

Dengan menggunakan sistem ini, dimensi ruang dan kapasitas rak apapun tidak akan memberikan dampak langsung terhadap penambahan unit pendingin. Dengan cold aisle containment ini, bisa mencapai efisiensi energi untuk pendinginan mencapai 30 persen. Artikel menarik lainnya terkait pusat data, silahkan lihat pada Blog ini, disajikan melalui situs www.gtndatacenter.com untuk pencerahan.

Untuk mesin unit pendingin udara yang merupakan komponen yang beroperasi sepanjang waktu, dengan memanfaatkan air yang didinginkan, operasional data center bisa memperoleh penghematan sampai 15 persen.

Air yang sudah terpakai akan diolah di water treatment facility untuk mengembalikan baku mutu air yang aman untuk lingkungan.

Penggunaan lampu LED, material bahan bangunan yang tidak berbahaya juga dilaksanakan untuk keseluruhan instalasi yang ada. DRUPS atau diesel rotary uninterruptible power supply merupakan teknologi yang cocok untuk data center dalam mendukung ketersediaan dan stabilitas listrik ketika terjadi pergantian sumber daya listrik.

Teknologi DRUPS merupakan perpaduan teknologi generator diesel, UPS statis dan power correction panel. Dengan proses kinetik, listrik akan tersimpan pada sebuah rotor dan bisa menghasilkan efisiensi daya listrik lebih dari 97% (power factor 0.97).

DRUPS merupakan pengganti unit batere ukuran masif, yang mengandung materi toxic.

Dan menggunakan unit DRUPS bisa berjalan bersama untuk skalabilitas, penambahan kapasitas data center tidak perlu diikuti dengan penambahan ruang untuk unit listrik cadangan apabila dibandingkan dengan UPS konvensional.

Di era internet of things sekarang ini, selain pengamanan fisik berlapis, semua titik penting dan strategis juga dapat dimonitor dan dikendalikan menggunakan jaringan cepat internet WiFi, terlebih monitoring server dalam ruangan data center, agar keamanan dan konfigurasi fisik terjaga.

Bisnis dan Infrastruktur Data Center

Pertumbuhan data center di Indonesia menunjukkan perkembangan ke arah yang semakin dinamis seiring dengan bertambahnya perusahaan-perusahaan konglomerasi dan teknologi yang melihat bisnis dan infrastruktur data center semakin dibutuhkan secara strategis oleh beragam organisasi yang semakin membutuhkan dukungan terhadap pengelolaan data secara aman dan mudah diakses.

Ekspansi Global Bisnis Data Center
Perusahaan multinasional yang sudah menunjukkan komitmen untuk membangun data center di Indonesia antara lain Google, Amazon, Alibaba, IBM mengikuti kiprah perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang menunjukkan minat tinggi untuk pengembangan bisnis dalam bidang ini melalui joint venture.

Perusahaan skala global akan membutuhkan utilisasi data center dengan rated 3 dan 4 mengikuti standar tinggi yang berlaku dari induk perusahaannya.

Ledakan data, regulasi yang semakin ketat, ancaman terhadap keamanan siber dan biaya pengembangan infrastruktur data center menjadi faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam mengikuti perkembangan kebutuhan dan nilai investasi.

Dari informasi yang dilansir dari Indotelko pada Januari 2018, return of invested capital (ROIC) data center di Indonesia adalah 11,6%, yang merupakan tertinggi di Asia Pasifik, dibanding Singapura 9,5% dan terendah, Australia sebesar 3,8%.

Dengan adanya momentum untuk perpindahan ibukota negara Indonesia dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan, menarik untuk mengikuti lebih lanjut apakah pembangunan infrastruktur yang ada akan ikut memacu pertumbuhan infrastruktur pusat data, yang saat ini masih terpusat di Jawa sebesar 60%.
Regulasi yang ada seperti Peraturan Pemerintah No. 82/2012 mewajibkan sistem pembayaran elektronik untuk menyimpan datanya di Indonesia. SKK Migas juga mewajibkan seluruh perusahaan minyak dan gas (migas) untuk memiliki pusat data yang ditempatkan di Indonesia. Karenanya eksistensi data center di Indonesia menjadi kebutuhan strategis.

Regulasi mengenai perlindungan data pribadi yang akan diluncurkan pemerintah Indonesia diharapkan juga akan membuka potensi bisnis data center.

Beberapa Prediksi Pertumbuhan Data Center

Laporan Indonesia Data Center Market Overview and Forecast 2014-2020, mencatat potensi investasi bisa naik 70%, yang mencapai nilai USD 850 juta.

Untuk kebutuhan lahan juga akan menorehkan pertumbuhan, kebutuhan lahan pada 2016 tercatat 290.000 meter persegi, naik 29% pada 2020, yang membutuhkan lahan sebesar 375.000 meter persegi.
Seiring dengan pertumbuhan lahan data center dan features yang ditawarkan, kebutuhan pasokan listrik juga akan meningkat. Energi listrik yang dikonsumsi data center Indonesia pada 2016 adalah 330 megawatt, pada 2020 akan naik sebanyak 44% menjadi 475 megawatt.

Pembangunan infrastruktur data center selain membutuhkan biaya besar, juga harus memenuhi syarat desain dan perencanaan yang mencakup keamanan lokasi, syarat rekayasa sipil, geologi, vulkanologi dan topografi.

Setelah semua analisa diatas dilakukan sudah memenuhi syarat teknisnya, maka kontraktor yang melakukan pekerjaan pembangunan juga harus memenuhi semua standar bahan dan teknis pelaksanaan agar kualitas fisiknya mempunyai masa pakai yang telah diperhitungkan.

Ketersediaan sumber daya listrik yang stabil dan bisa ditambah secara fleksibel dalam kapasitas besar sesuai kebutuhan merupakan nilai strategis yang membuat sebuah data center menjadi layak diperhitungkan sebagai colocation data center.

Studi Datacenter Dynamics Intelligence (DCDi) yang pernah diulas di Suara.com memaparkan bahwa akan semakin banyak end-user, utamanya manajemen dari perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce dan finansial, yang akan menanamkan investasi mereka pada colocation dan outsourcing.

Investasi pada colocation dan outsourcing ini menurut prediksi akan mencapai hingga USD 320 juta pada 2020, atau bergerak naik 83 persen dari proyeksi 2016 senilai USD 175 juta.

Infrastruktur Data Center GTN
GTN Data Center sebagai penyedia colocation, yang mulai beroperasi penuh di tahun 2016, sudah mempunyai jalinan kemitraan dengan perusahaan lokal, badan pemerintah dan internasional karena mereka melihat alih-daya infrastruktur, akan mengikuti perkembangan di bidang teknologi ini.
Dengan lokasi data center di Cikarang, GTN Data Center menyediakan infrastruktur yang bisa menjadi pemberdayaan bagi komunitas bisnis dengan standar global, handal dan carrier neutral di Jakarta dan sekitarnya.

Sejak awal dibangun dengan konsep green data center, GTN Data Center memiliki rancangan operasional untuk peghematan dalam konsumsi listrik untuk infrastruktur TI dan sistem pendinginan yang berbahan ramah lingkungan. Gedung dan perangkat terpasang seperti mekanikal, lighting, elektrikal, tenaga listrik cadangan dan sistem pendinginan berlaku prinsip-prinsip ramah lingkungan.

Pengamanan Data di Data Center Lokal
Keberadaan data center khususnya di Indonesia akan menjadi bagian strategis untuk melindungi keamanan data. Keamanan data menjadi hal yang sensitif bagi semua negara di dunia. Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara maju lainnya sangat memperhatikan keamanan dan perlindungan data pribadi warga negaranya.

Ini merupakan saat yang tepat untuk mempersiapkan penempatan berbagai data baik pribadi dan publik sesuai dengan klasifikasinya di data center yang berlokasi di Indonesia sehingga memberikan manfaat untuk pengembangan bisnis dan kepentingan publik.

Copyright 2019 Graha Teknologi Nusantara.