Bisnis dan Infrastruktur Data Center

Pertumbuhan data center di Indonesia menunjukkan perkembangan ke arah yang semakin dinamis seiring dengan bertambahnya perusahaan-perusahaan konglomerasi dan teknologi yang melihat bisnis dan infrastruktur data center semakin dibutuhkan secara strategis oleh beragam organisasi yang semakin membutuhkan dukungan terhadap pengelolaan data secara aman dan mudah diakses.

Ekspansi Global Bisnis Data Center
Perusahaan multinasional yang sudah menunjukkan komitmen untuk membangun data center di Indonesia antara lain Google, Amazon, Alibaba, IBM mengikuti kiprah perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang menunjukkan minat tinggi untuk pengembangan bisnis dalam bidang ini melalui joint venture.

Perusahaan skala global akan membutuhkan utilisasi data center dengan rated 3 dan 4 mengikuti standar tinggi yang berlaku dari induk perusahaannya.

Ledakan data, regulasi yang semakin ketat, ancaman terhadap keamanan siber dan biaya pengembangan infrastruktur data center menjadi faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam mengikuti perkembangan kebutuhan dan nilai investasi.

Dari informasi yang dilansir dari Indotelko pada Januari 2018, return of invested capital (ROIC) data center di Indonesia adalah 11,6%, yang merupakan tertinggi di Asia Pasifik, dibanding Singapura 9,5% dan terendah, Australia sebesar 3,8%.

Dengan adanya momentum untuk perpindahan ibukota negara Indonesia dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan, menarik untuk mengikuti lebih lanjut apakah pembangunan infrastruktur yang ada akan ikut memacu pertumbuhan infrastruktur pusat data, yang saat ini masih terpusat di Jawa sebesar 60%.
Regulasi yang ada seperti Peraturan Pemerintah No. 82/2012 mewajibkan sistem pembayaran elektronik untuk menyimpan datanya di Indonesia. SKK Migas juga mewajibkan seluruh perusahaan minyak dan gas (migas) untuk memiliki pusat data yang ditempatkan di Indonesia. Karenanya eksistensi data center di Indonesia menjadi kebutuhan strategis.

Regulasi mengenai perlindungan data pribadi yang akan diluncurkan pemerintah Indonesia diharapkan juga akan membuka potensi bisnis data center.

Beberapa Prediksi Pertumbuhan Data Center

Laporan Indonesia Data Center Market Overview and Forecast 2014-2020, mencatat potensi investasi bisa naik 70%, yang mencapai nilai USD 850 juta.

Untuk kebutuhan lahan juga akan menorehkan pertumbuhan, kebutuhan lahan pada 2016 tercatat 290.000 meter persegi, naik 29% pada 2020, yang membutuhkan lahan sebesar 375.000 meter persegi.
Seiring dengan pertumbuhan lahan data center dan features yang ditawarkan, kebutuhan pasokan listrik juga akan meningkat. Energi listrik yang dikonsumsi data center Indonesia pada 2016 adalah 330 megawatt, pada 2020 akan naik sebanyak 44% menjadi 475 megawatt.

Pembangunan infrastruktur data center selain membutuhkan biaya besar, juga harus memenuhi syarat desain dan perencanaan yang mencakup keamanan lokasi, syarat rekayasa sipil, geologi, vulkanologi dan topografi.

Setelah semua analisa diatas dilakukan sudah memenuhi syarat teknisnya, maka kontraktor yang melakukan pekerjaan pembangunan juga harus memenuhi semua standar bahan dan teknis pelaksanaan agar kualitas fisiknya mempunyai masa pakai yang telah diperhitungkan.

Ketersediaan sumber daya listrik yang stabil dan bisa ditambah secara fleksibel dalam kapasitas besar sesuai kebutuhan merupakan nilai strategis yang membuat sebuah data center menjadi layak diperhitungkan sebagai colocation data center.

Studi Datacenter Dynamics Intelligence (DCDi) yang pernah diulas di Suara.com memaparkan bahwa akan semakin banyak end-user, utamanya manajemen dari perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce dan finansial, yang akan menanamkan investasi mereka pada colocation dan outsourcing.

Investasi pada colocation dan outsourcing ini menurut prediksi akan mencapai hingga USD 320 juta pada 2020, atau bergerak naik 83 persen dari proyeksi 2016 senilai USD 175 juta.

Infrastruktur Data Center GTN
GTN Data Center sebagai penyedia colocation, yang mulai beroperasi penuh di tahun 2016, sudah mempunyai jalinan kemitraan dengan perusahaan lokal, badan pemerintah dan internasional karena mereka melihat alih-daya infrastruktur, akan mengikuti perkembangan di bidang teknologi ini.
Dengan lokasi data center di Cikarang, GTN Data Center menyediakan infrastruktur yang bisa menjadi pemberdayaan bagi komunitas bisnis dengan standar global, handal dan carrier neutral di Jakarta dan sekitarnya.

Sejak awal dibangun dengan konsep green data center, GTN Data Center memiliki rancangan operasional untuk peghematan dalam konsumsi listrik untuk infrastruktur TI dan sistem pendinginan yang berbahan ramah lingkungan. Gedung dan perangkat terpasang seperti mekanikal, lighting, elektrikal, tenaga listrik cadangan dan sistem pendinginan berlaku prinsip-prinsip ramah lingkungan.

Pengamanan Data di Data Center Lokal
Keberadaan data center khususnya di Indonesia akan menjadi bagian strategis untuk melindungi keamanan data. Keamanan data menjadi hal yang sensitif bagi semua negara di dunia. Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara maju lainnya sangat memperhatikan keamanan dan perlindungan data pribadi warga negaranya.

Ini merupakan saat yang tepat untuk mempersiapkan penempatan berbagai data baik pribadi dan publik sesuai dengan klasifikasinya di data center yang berlokasi di Indonesia sehingga memberikan manfaat untuk pengembangan bisnis dan kepentingan publik.