Gagasan Transformasi Digital Menuju Revolusi Industri 4.0

 

Perkembangan industri di dunia mendapat dorongan dan percepatan dari teknologi informasi yang membuat semua perangkat elektronik dan mekanik bisa menghasilkan data, yang bisa diolah untuk memberikan informasi yang lebih banyak dan berguna, dalam rangka mengetahui kinerja, monitoring dan lain sebagainya. Inilah yang melatari revolusi industri 4.0.

 

Revolusi industri 4.0 ini merupakan penerapan otomatisasi manufaktur dengan perhitungan yang lebih efisien dan akurat sumber daya, waktu, biaya yang diperlukan untuk produksi. Pertukaran data dilakukan secara on-time dan real-time melalui jaringan internet. Pemantauan dapat dilakukan dari mana pun dan kapan saja.

 

Era industri 4.0 ini ditandai dengan semakin banyaknya inovasi untuk Internet of Things (IoT), big data, artificial intelligence (kecerdasan buatan), percetakan 3D, rekayasa genetika, robot dan machine learning (mesin pembelajaran). Data menjadi fondasi dari inovasi digital.

 

Salah satu pencapaian terbesar dari transformasi digital adalah semakin meningkatnya kemampuan komunikasi antara mesin, perangkat, sensor dan manusia melalui jaringan internet sehingga aktivitas sehari-hari yang tadinya hanya bisa dilakukan pada perangkat atau mesin yang besar dan kompleks, kini bisa dilakukan melalui aplikasi yang terpasang pada alat komunikasi genggam (mobile phone) atau perangkat ringkas canggih lainnya.

 

Bersamaan dengan itu adalah big data, yang mencakup semua informasi yang berada dan tersimpan pada komputasi awan (cloud computing).

 

Kehadiran IoT dan big data memberi wawasan yang lebih baik bagi pengambil keputusan di lapangan dan manajemen secara holistik.

 

Big Data dan Infrastruktur TI

 

Big data membutuhkan kemampuan komputasi dan penyimpanan yang mumpuni, yang pada ujungnya mendorong pengembangan media penyimpanan, infrastruktur jaringan, dan cara-cara baru untuk menangani kebutuhan komputasi yang selalu meningkat.

 

Sistem Penyimpanan

Dalam hal kapasitas, ukuran data yang dimaksud sudah mencapai satuan petabyte dan meningkat dengan cepat. Untuk itu, media penyimpanan mesti memiliki skalabilitas dan fleksibilitas yang tinggi tanpa menurunkan atau menghentikan operasi sistem dalam rangka peningkatan.

Untuk analisa Big Data artinya melakukan banyak tracking berbagai data dari sumber yang dinamis seperti media sosial, media dan transaksi online, yang sering dipakai untuk mengambil keputusan strategis dalam waktu yang hampir bersamaan (Real time).

 

Konektivitas Jaringan

Karenanya, Big Data juga akan memberi dampak yang besar pada infrastruktur jaringan. Data center besar sudah mempunyai kemampuan untuk menanganinya dengan WAN dan SD-WAN untuk kebutuhan bandwidth ini. Jika sebelumnya, interaksi antara aplikasi dan data center ini berdasarkan pada permintaan yang dilakukan oleh manusia, yang relatif kecil bila dibandingkan aliran Big Data. Karenanya, network upgrade dan bandwidth adalah hal yang ada di depan mata.

 

Latency

Fasilitas penyimpanan Big Data idealnya mempunyai nilai latency yang rendah; kalau sebaliknya, bisa mengakibatkan data terkini menjadi tidak bernilai (data basi). Pengolahan data terkini (real-time) menjadi kebutuhan dalam berbagai aplikasi, yang mana salah satunya dengan flash based storage system.

 

Aksesibilitas ke Big Data adalah aspek krusial mengingat data yang masuk dan keluar berada pada berbagai platform dan tersimpan pada hosting yang tersebar. Perpaduan dan pengolahan data ini akan memberikan satu gambaran besar yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

 

Keamanan

Kendala dengan data yang sedemikian besar adalah tingkat keamanan untuk mengatasi skenario TI yang sudah ada dan potensi timbul di kemudian hari. Keamanan penyimpanan ini membutuhkan penanganan dengan penerapan standar atau baku yang handal tanpa mengorbankan latency dan skalabilitasnya.

 

Biaya

Dari semua faktor yang perlu diterapkan di atas, biaya adalah kekhawatiran yang logis untuk menyimpan Big Data, yang eksplisit dari istilah itu sendiri. Saat ini, di luar sana sudah tersedia teknologi yang bisa mengefisienkan penyimpanan data melalui metode de-duplikasi, data redundancy, maupun membangun perangkat keras TI berdasarkan kebutuhan (custom hardware).

 

Pada akhirnya, ini kembali pada proses awal, yaitu perencanaan dan rekayasa sistem penyimpanan untuk memastikan bahwa perhatian pada detail untuk kebutuhan sekarang dan masa depan. Aplikasi analitik adalah perangkat lunak yang akan dipakai untuk integrasi dan migrasi Big Data. Sistem penyimpanan perlu desain yang sedemikian rupa sehingga tidak perlu migrasi data ketika diperlukan perbaikan.

 

Peran data center tidak hanya sekedar semua aset TI dikelola dan dioperasikan, jaringan yang ada bisa menjadi pusat pertukaran informasi yang bisa diakses satu sama lainnya melalui skema bisnis atau kerja sama dalam bentuk kepemilikan, penyewaan dan langganan.

Mengenal Tentang Disaster Recovery Center (DRC)

disaster recovery as a service

Membaca istilah tersebut, yang muncul di benak adalah apa itu Disaster Recovery Center atau sering disingkat juga DRC? Dan ada sebagian lagi yang menyebutnya situs pemulihan bencana. Apa fungsinya dalam membantu bisnis atau organisasi dalam keadaan darurat?

Untuk itu pembahasannya akan dikemas dengan informasi yang sebaiknya diketahui oleh pemilik dan manajemen perusahaan serta administrator IT dan mereka yang mempunyai kepentingan untuk itu.

Eksistensi Disaster Recovery Center itu sebagai apa?

Untuk perusahaan dengan skala operasi yang luas dan kompleks dan pemerintahan, disaster recovery center merupakan salah satu perencanaan kontingensi dalam menghadapi situasi bencana dan kejadian luar biasa lainnya, dengan penempatan perangkat TI, sistem, aplikasi dan data sebagai backup (cadangan) pada tempat atau lokasi yang terpisah.

Perusahaan dan pemerintahan yang memberikan pelayanan kepada konsumen dan publik mempunyai resiko dalam hal sistem informasi internal mengalami kelumpuhan operasional dan hal ini bisa menyebabkan gangguan yang berujung pada kerugian secara finansial karena terhentinya aktivitas ekonomi dan aspek keamanan data dan jaringan.

Dengan keberadaan disaster recovery center, misalnya gangguan kelistrikan internal ataupun putusnya jaringan listrik, manajemen IT bisa mengalihkan seluruh aktivitas operasi ke colocation data center seperti GTN Data Center.

Persyaratan dan Ketentuan Disaster Recovery di Indonesia

Faktor utama yang menentukan pilihan DRC yang akan dipakai adalah lokasi. Ini untuk menentukan jarak fisik antara situs utama dan DRC. Berdasarkan praktik terbaik yang diterapkan secara umum adalah dalam radius 60 kilometer dari pusat operasi. Dalam praktek, ada juga yang menganjurkan radius antara 30 dan 50 kilometer.

Lokasi dengan radius tersebut dari Jakarta berada di Bekasi, Tangerang, Bogor dan Depok, dengan kontur masing-masing.

Dengan angka yang berbeda tersebut, tentunya pengukuran dan pengujian lebih detail oleh pemangku kepentingan akan menghasilkan data yang lebih baik berdasarkan infrastruktur yang tersedia di lapangan.

Jarak yang lebih pendek akan memudahkan, mempercepat, mengurangi resiko data yang rusak atau hilang dan data real-time yang lebih efektif, yang merupakan latency jaringan. Akan tetapi kedekatan ini akan menimbulkan ancaman tersendiri terkait bencana atau peristiwa darurat yang terjadi.

Syarat-syarat teknis yang bisa mendukung peran dan kapasitas sebagai data center recovery ini selayaknya mengacu pada kepatuhan yang ditetapkan oleh PCI DSS dan ISO 27001, karena transaksi keuangan rentan terhadap intensitas serangan siber. GTN Data Center sendiri menyandang sertifikasi PCI DSS 3.2.

Sebagai DRC yang handal, jaminan ketersediaan layanan 99,999% juga merupakan tolok ukur. Untuk itu, minimal mempunyai sertifikasi Tier 3 dari Uptime Institute, atau Rated 3 dari TIA-942.org, dengan SLA 99,982% sementara untuk Tier 4, SLA 99,995%.

Regulasi mengenai disaster recovery center ini sejauh yang bisa ditelaah mengatur sektor perbankan dan fintech (financial technology), yang tertuang dalam peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 yaitu pasal 25 ayat 2, yang mengharuskan adanya pusat pemulihan bencana dan menyebutkan juga bahwa lokasi data cadangan harus berada di Indonesia.

Dalam ketentuan sebelumnya yang lebih tinggi dalam hukum Indonesia, yaitu PP Nomor 82 Tahun 2012 juga mewajibkan keberadaannya secara infrastruktur di Indonesia. Tetapi dengan terbitnya PP No. 71 Tahun 2019 sebagai revisi atas PP sebelumnya, maka kewajiban bahwa disaster recovery center di Indonesia akan melihat pada kategori yang akan disimpan sebagai cadangan apakah data publik atau data privat.

Solusi Disaster Recovery as a Service (DRaaS) untuk Perusahan dan Organisasi

Dengan perkembangan teknologi TI saat ini, mitigasi resikonya tidak lagi terbatas staf TI yang melakukan perjalanan ke DRC atau memindahkan data ke perangkat penyimpanan.

Bagi perusahaan dengan skala bisnis menengah, saat ini sudah memungkinkan untuk memiliki disaster recovery center melalui penyedia pihak ketiga, baik dalam bentuk fisik maupun virtual (cloud), yang siap mendukung tim TI internal.

Bagi sektor usaha menengah, disaster recovery yang berjalan di platform cloud akan memberikan keleluasaan dalam penyesuaian dengan biaya dan teknis yang dibutuhkan.

Dengan mengetahui manfaat dan kelebihan solusi Disaster Recovery as a Service (DRaaS) ini, perusahaan dan organisasi mempunyai wawasan untuk mengembangkan transformasi digital yang terpadu untuk Business Contingency Plan (BCP) demi kelangsungan bisnis atau operasi tanpa henti.

Mengingat bencana dan kondisi darurat lainnya karena faktor teknis dan manusia tidak bisa dipastikan kapan terjadi, faktor pemulihan (recovery) yang bisa dicapai dengan solusi DRaaS adalah hitungan menit. Downtime adalah hal pokok yang harus dihindari, minimal perusahaan akan menetapkan standar downtime yang masih bisa ditolerir.

Dalam disaster recovery plan, perkiraan RTO (Recovery Time Objective) dan RPO (Recovery Point Objective) bisa membantu dalam analisa dampak bisnis dari downtime yang terjadi, baik yang terjadwal maupun yang tidak terduga.

Dengan virtualisasi DRaaS ini, perusahaan akan mempunyai akses ke aset virtual untuk perangkat lunak dan keras, atau menyerahkan sepenuhnya kepada pihak ketiga. Penghematan yang didapatkan adalah lisensi untuk perangkat yang ada, sumber daya listrik yang terjamin dan bandwidth skala korporasi.

Dengan solusi DRaaS, berbagai skenario pemulihan memberikan pilihan dalam hal bagaimana menangani bisnis dengan sistem yang berbeda.

Untuk kehandalan operasional DRaaS, data center tidak hanya update terhadap perkembangan teknologi, dan kepatuhan pada standarisasi yang berlaku, tetapi juga efisiensi yang dapat diukur dan diuji secara berkala.

Pusat Data di Indonesia Guna Meraih Manfaat Maksimal

Di era digital sekarang ini, kita akan menemukan data elektronik yang berasal dari berbagai sumber. Data ini dikumpulkan, disimpan dan diproses secara kuantitas dan kualitas dalam tahapan yang semakin kompleks sehingga dikenal istilah Big Data.

Potensi Pengguna Internet di Indonesia

Disebutkan bahwa pengguna internet saja menghasilkan milyaran data per harinya. Dalam beberapa referensi online ditulis sebesar 2,5 quintillion. Apabila 1 milyar terdiri dari sembilan bilangan Nol (0), maka satuan quintillion terdiri dari 18 bilangan Nol.

Kebutuhan yang tersangkut dengan data pun akan menunjukkan trend dengan grafik yang menanjak. Bila Indonesia ingin menjadi bagian dari pertumbuhan pusat data di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik, pemerintah dan sektor harus mengambil inisiatif untuk menfasilitasi dan membangun infrastruktur yang mendukung kemajuan ke depan.

Dilansir dari media online Tirto.id, Singapura menjadi lokasi pusat data nomor satu dan terbaik di Asia Tenggara. Beberapa perusahaan global seperti Amazon, Google, Facebook, Microsoft, Alibaba, Tencent, IBM membangun pusat data sendiri di negara pulau seluas lebih besar dari Jakarta ini. Mengapa dibangun di Singapura?

Pertumbuhan pengguna di wilayah Asia Tenggara menjadi alasan Google mengambil keputusan tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh Facebook. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Indonesia adalah pasar internet terbesar di Asia Tenggara. Indonesia merupakan negara kelima terbesar di dunia dalam hal pengguna internet, dengan jumlah 143.260.000 (Informasi Internetworldstats).

Berdasarkan informasi Hootsuite, pengguna internet Indonesia ada 150 juta orang. Dengan pengguna beberapa platform media sosial yang dimiliki perusahaan global tersebut mencapai diatas 80%. Instagram 80%, Facebook 81%, WhatsApp 83% dan YouTube 88%.

Dari segi infrastruktur konektivitas internet, pemerintah Indonesia baru saja meresmikan Palapa Ring, yang sering digadang sebagai Tol Langit untuk menghubungkan seluruh propinsi dan kabupaten se-Indonesia dengan kabel laut dan darat, dengan panjang keseluruhannya 57.087 kilometer.

Kesiapan dan Pembaharuan Regulasi Yang Ada

Di Indonesia, terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan data pribadi dan informasi, ada beberapa peraturan yang berlaku, yang terpisah, untuk pengaturan masing-masing sektor, yang diambil sumber informasinya dari kliklegal.com. Sebut saja diantaranya:

  1. Peraturan Bank Indonesia No. 9/15/PBI/2007 mengenai manajemen resiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh bank-bank komersil.
  2. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 11 Tahun 2010 mengenai Penyelenggaraan layanan televisi protokol internet (Internet Protocol Television / IPTV).
  3. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 36 Tahun 2014 mengenai Tata Cara Pendaftaran Penyelenggara Sistem Elektronik.
  4. Peraturan Menteri (Permen) No. 20 Tahun 2016 mengenai Perlindungan Data Pribadi (PDP) dalam Sistem Elektronik.
  5. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 4 Tahun 2016 mengenai Sistem Manajemen Pengaman Informasi.
  6. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 11 Tahun 2016 mengenai Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik.
  7. Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2019 yang menggantikan Peraturan Pemerintah No. 82/2012 mengenai Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSTE).
  8. Undang-undang No. 19/2016 mengenai perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2019 ini, terdapat revisi mengenai penempatan data. Ketentuan ini menyebutkan bahwa penempatan data yang bersifat publik dan keamanan wajib berada di data center di Indonesia.

Mengingat bahwa penempatan data lingkup privat bisa dilakukan di Indonesia dan luar Indonesia oleh penyelenggara sistem elektronik berdasarkan PP ini, beberapa asosiasi yang berkaitan dengan industri data center dan telekomunikasi mengajukan judicial review mengingat hal tersebut akan mempengaruhi iklim pengembangan data center dan yang terkait dengannya menjadi tidak pasti untuk pelaku di dalam negeri.

Bagaimana pun sektor swasta baik lokal dan internasional, seperti GTN Data Center mempunyai peran yang besar dalam mengelola data pribadi ini dalam kegiatan bisnis. Kedaulatan data tidak akan berjalan sepenuhnya menjadi kekhawatiran bagi beberapa pelaku industri dan kalangan profesional dan intelektual.

Menimbang antara Dedicated dan Colocation Server

Pembahasan istilah teknis yang disebut pada judul yaitu dedicated server dan colocation server bertujuan untuk merangkum seluruh informasi yang ada menjadi sebuah bahan bacaan yang bisa menambah wawasan bagi siapapun yang tertarik untuk mendalaminya.

Faktor-faktor apa saja yang terkait dengan keduanya merupakan penjelasan yang akan diuraikan lebih lanjut, sehingga pertimbangan utilisasinya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Keunggulan Dedicated Server

Dalam pengertian umum, dedicated server merupakan server yang diperuntukan seutuhnya untuk satu user, tanpa berbagi sumber daya yang ada dengan user lain. Artinya, pengelolaan server sepenuhnya pada individu yang mempunyai akses, tetapi sistem operasi (Linux, Windows), tipe perangkat, bandwidth dan fitur keamanan, backup dan keamanan data sudah tersedia sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada. Dalam tahap layanan yang paling dasar adalah unmanaged dedicated server. Dukungan teknis hanya diberikan sampai pada tahap tatanan jaringan dan hardware, instalasi dan konfigurasi pertama kali yang diperlukan.

Bagi yang memilih dedicated server adalah pertimbangan memiliki lebih banyak sumber daya ketika dibutuhkan dan tidak berbagi untuk bandwidth dan disk space.

Untuk dedicated server management plan, operator data center menyediakan lagi rangkaian layanan yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan tambahan kepada pelanggannya dengan tingkatan keamanan data dan jaringan yang lebih tinggi, proteksi dari DDOS, instalasi aplikasi dan layanan lainnya. Paket dedicated server service ini merupakan langkah strategis tanpa perlu memikirkan biaya diawal untuk investasi pada perangkat keras TI, tetapi bisa mendapatkan infrastruktur TI yang kuat dan terjangkau.

 

 

Hal utama yang menjadi keunggulan dedicated server adalah garansi pergantian hardware dalam kejadian gagal fungsi dengan SLA yang berbeda antara penyedia yang satu dengan yang lainnya, bisa dalam hitungan jam.

Dedicated server berperan untuk menjalankan aplikasi yang berat dengan beban kerja yang tinggi, yang tidak bisa dipenuhi oleh layanan yang berbasis VPS dan shared hosting. Perusahaan yang mempunyai data base yang besar dan berbagai aplikasi yang dijalankan akan membutuhkan penyewaan dedicated server, yang ditempatkan pada data center yang standar keamanan fisik dan virtual baik.

Rak Server

Keunggulan Colocation Server

Colocation server mempunyai pengertian yang berbeda dari dedicated server. Colocation mempunyai korelasi dengan lokasi fisik yang digunakan untuk penitipan server pada data center. Untuk colocation tersedia beberapa tipe rak yaitu Per U, Half Rack dan Full Rack (1, 2 dan 4 server). Model penempatan ada dua model yaitu rack dan cabinet.

Pemilihan rack ini merupakan keputusan pengguna yang menyewa berdasarkan kebutuhan pada saat itu dan budget yang ada. Untuk kemudahan akses fisik ke rack berbeda antara satu penyedia dengan penyedia lainnya, ada yang rack-nya sendiri mempunyai kunci masing-masing, selain lapis pengamanan yang lainnya. Ada yang cabinet-nya yang dilengkapi dengan dinding dan pintu yang terkunci setiap saat.

Colocation ini juga bisa dipadukan dengan managed solution, yang memberikan kemudahan dalam hal berikut:

  1. Sistem otomatis untuk monitoring, maintenance and troubleshooting.
  2. Bantuan tenaga ahli di data center untuk menghadapi keadaan kompleksitas keadaan darurat namun terkendala waktu dan lokasi yang jauh. Tindakan cepat seperti cabling un/plug, and power hard reboot). Lebih jauh lagi, instalasi ulang OS, konfigurasi RAID dan routine checking.

Daya listrik yang bisa disuplai ke colocation server adalah untuk mendukung kinerja sampai rack 4U.
Untuk bandwidth juga berbeda antara provider yang satu dengan lainnya, bisa berbagi (shared) dan dedicated.

Layanan colocation server di Indonesia maupun region lain idealnya untuk kebutuhan aplikasi dan website yang mempunyai aktivitas tinggi, perusahaan media dan ecommerce, dan jenis perusahaan yang butuh beragam resources dengan harga terjangkau.

Dalam konfigurasi yang lebih besar lagi adalah private and secure cage. Ruangan dan suplai listrik yang besar akan mampu menampung beberapa server rack dengan akses terbatas dan bisa dipantau melalui CCTV.

Server Kabinet

Informasi untuk GTN Colocation Server Services

Di GTN Data Center di Cikarang, Bekasi sendiri menyediakan solusi beragam yang sesuai kebutuhan untuk penempatan server dan dirancang untuk menampung server dengan IT load tinggi.

Closed rack merupakan unit yang tersedia dengan kunci masing-masing selain akses dengan pintu terkunci, dengan mengusung konsep “cold containment aisle”. Ini merupakan bagian dari 7 lapis tingkat keamanan yang diimplementasi.

Tersedia dan siap pakai juga adalah private and secure cage, yang bisa menampung 3 rack dimana 1 rack sama dengan 42U (Universal Server Rack).

Fitur dan Desain Operasional Pusat Data

Pengembangan sebuah data center didasarkan pada model dan penataan berbagai sumber daya Teknologi Informasi (TI), rancang bangun arsitektural dan keseluruhan infrastruktur yang saling berkaitan.  Jadi, selain rekayasa teknik yang tepat guna dalam konstruksi bangunan dan utilitas yang mendukung operasi, ada juga yang menjadi fokus yaitu konsep yang diterapkan untuk pengembangan dan implementasi dalam lingkup TI. Desain dan fitur pusat data ini secara umum meliputi berbagai proses kerja dan teknis, yang dituangkan dalam dokumentasi, model diagram sistem dan kombinasi antara keduanya.

Skema Dasar Pusat Data

Setiap data center memiliki dokumen dan diagram yang menggambarkan alur logis dan visual yang mencakup secara luas parameter komputasi dan non-komputasi yang ada.

Dalam bidang kapasitas untuk TI, aspek yang menjadi perhitungan meliputi:

  1. Jumlah dan tipe rak yang bisa diakomodasi
  2. Tata letak dan perangkat jaringan
  3. Perangkat lunak untuk manajemen data center agar bisa mendukung kinerja dan standar operasional.

Dalam aspek diluar TI, biasanya akan memasukkan faktor-faktor seperti:

  1. Ruang fisik untuk menampung semua peralatan yang ada
  2. Sumber listrik, sistem pendinginan dan ventilasi
  3. Keamanan fisik, disaster recovery dan rencana keberlanjutan bisnis (business continuity planning).

Manajemen Data Center

Pusat data modern hanya memerlukan tenaga profesional dalam jumlah kecil untuk melakukan manajemen kumpulan data perangkat keras sistem yang terhubung ke jaringan yang lebih besar. Data center mempunyai tanggung jawab untuk melindungi data dalam jumlah yang sangat besar dan mengamankan dari ancaman pembobolan data. Hosting server akan dikelola secara aktif dengan mengandalkan pada cara-cara yang otomatis dan mudah dimonitor sehingga memberikan penghematan dari segi pemeliharaan dan energi yang dikonsumsi. Fitur yang ada pada data center akan mendapatkan pembaharuan dari segi perangkat keras, sistem operasi, distribusi dan penyimpanan data, skema backup, rencana darurat dan tentunya dukungan teknisi.

Fitur dan Desain Ramah Lingkungan

Untuk mitigasi kepada perubahan iklim yang menjadi perhatian bagi masyarakat TI di pelosok dunia, desain dan fitur data center mengadopsi konsep ramah lingkungan dalam berbagai aspek. Konsep cold aisle containment rack merupakan salah satu implementasinya. Proses pendinginan ruangan server dengan mengatur tekanan aliran udara.

Ini merupakan instalasi rak server dan dindingnya, yang bertujuan untuk memisahkan aliran udara dingin dan udara panas. Ini sangat fungsional untuk menghadapi kebutuhan dan pertumbuhan tingkat kepadatan server yang terpasang per meter persegi, namun tetap mempertahankan suhu udara dingin yang stabil.

Dengan demikian, udara dingin yang dihasilkan bisa terpakai seluruhnya untuk mendinginkan server yang ada, sementara udara panas yang dihasilkan server langsung dialirkan ke unit penyerap panas.

Dengan menggunakan sistem ini, dimensi ruang dan kapasitas rak apapun tidak akan memberikan dampak langsung terhadap penambahan unit pendingin. Dengan cold aisle containment ini, bisa mencapai efisiensi energi untuk pendinginan mencapai 30 persen. Artikel menarik lainnya terkait pusat data, silahkan lihat pada Blog ini, disajikan melalui situs www.gtndatacenter.com untuk pencerahan.

Untuk mesin unit pendingin udara yang merupakan komponen yang beroperasi sepanjang waktu, dengan memanfaatkan air yang didinginkan, operasional data center bisa memperoleh penghematan sampai 15 persen.

Air yang sudah terpakai akan diolah di water treatment facility untuk mengembalikan baku mutu air yang aman untuk lingkungan.

Penggunaan lampu LED, material bahan bangunan yang tidak berbahaya juga dilaksanakan untuk keseluruhan instalasi yang ada. DRUPS atau diesel rotary uninterruptible power supply merupakan teknologi yang cocok untuk data center dalam mendukung ketersediaan dan stabilitas listrik ketika terjadi pergantian sumber daya listrik.

Teknologi DRUPS merupakan perpaduan teknologi generator diesel, UPS statis dan power correction panel. Dengan proses kinetik, listrik akan tersimpan pada sebuah rotor dan bisa menghasilkan efisiensi daya listrik lebih dari 97% (power factor 0.97).

DRUPS merupakan pengganti unit batere ukuran masif, yang mengandung materi toxic.

Dan menggunakan unit DRUPS bisa berjalan bersama untuk skalabilitas, penambahan kapasitas data center tidak perlu diikuti dengan penambahan ruang untuk unit listrik cadangan apabila dibandingkan dengan UPS konvensional.

Di era internet of things sekarang ini, selain pengamanan fisik berlapis, semua titik penting dan strategis juga dapat dimonitor dan dikendalikan menggunakan jaringan cepat internet WiFi, terlebih monitoring server dalam ruangan data center, agar keamanan dan konfigurasi fisik terjaga.

Bisnis dan Infrastruktur Data Center

Pertumbuhan data center di Indonesia menunjukkan perkembangan ke arah yang semakin dinamis seiring dengan bertambahnya perusahaan-perusahaan konglomerasi dan teknologi yang melihat bisnis dan infrastruktur data center semakin dibutuhkan secara strategis oleh beragam organisasi yang semakin membutuhkan dukungan terhadap pengelolaan data secara aman dan mudah diakses.

Ekspansi Global Bisnis Data Center
Perusahaan multinasional yang sudah menunjukkan komitmen untuk membangun data center di Indonesia antara lain Google, Amazon, Alibaba, IBM mengikuti kiprah perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang menunjukkan minat tinggi untuk pengembangan bisnis dalam bidang ini melalui joint venture.

Perusahaan skala global akan membutuhkan utilisasi data center dengan rated 3 dan 4 mengikuti standar tinggi yang berlaku dari induk perusahaannya.

Ledakan data, regulasi yang semakin ketat, ancaman terhadap keamanan siber dan biaya pengembangan infrastruktur data center menjadi faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam mengikuti perkembangan kebutuhan dan nilai investasi.

Dari informasi yang dilansir dari Indotelko pada Januari 2018, return of invested capital (ROIC) data center di Indonesia adalah 11,6%, yang merupakan tertinggi di Asia Pasifik, dibanding Singapura 9,5% dan terendah, Australia sebesar 3,8%.

Dengan adanya momentum untuk perpindahan ibukota negara Indonesia dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan, menarik untuk mengikuti lebih lanjut apakah pembangunan infrastruktur yang ada akan ikut memacu pertumbuhan infrastruktur pusat data, yang saat ini masih terpusat di Jawa sebesar 60%.
Regulasi yang ada seperti Peraturan Pemerintah No. 82/2012 mewajibkan sistem pembayaran elektronik untuk menyimpan datanya di Indonesia. SKK Migas juga mewajibkan seluruh perusahaan minyak dan gas (migas) untuk memiliki pusat data yang ditempatkan di Indonesia. Karenanya eksistensi data center di Indonesia menjadi kebutuhan strategis.

Regulasi mengenai perlindungan data pribadi yang akan diluncurkan pemerintah Indonesia diharapkan juga akan membuka potensi bisnis data center.

Beberapa Prediksi Pertumbuhan Data Center

Laporan Indonesia Data Center Market Overview and Forecast 2014-2020, mencatat potensi investasi bisa naik 70%, yang mencapai nilai USD 850 juta.

Untuk kebutuhan lahan juga akan menorehkan pertumbuhan, kebutuhan lahan pada 2016 tercatat 290.000 meter persegi, naik 29% pada 2020, yang membutuhkan lahan sebesar 375.000 meter persegi.
Seiring dengan pertumbuhan lahan data center dan features yang ditawarkan, kebutuhan pasokan listrik juga akan meningkat. Energi listrik yang dikonsumsi data center Indonesia pada 2016 adalah 330 megawatt, pada 2020 akan naik sebanyak 44% menjadi 475 megawatt.

Pembangunan infrastruktur data center selain membutuhkan biaya besar, juga harus memenuhi syarat desain dan perencanaan yang mencakup keamanan lokasi, syarat rekayasa sipil, geologi, vulkanologi dan topografi.

Setelah semua analisa diatas dilakukan sudah memenuhi syarat teknisnya, maka kontraktor yang melakukan pekerjaan pembangunan juga harus memenuhi semua standar bahan dan teknis pelaksanaan agar kualitas fisiknya mempunyai masa pakai yang telah diperhitungkan.

Ketersediaan sumber daya listrik yang stabil dan bisa ditambah secara fleksibel dalam kapasitas besar sesuai kebutuhan merupakan nilai strategis yang membuat sebuah data center menjadi layak diperhitungkan sebagai colocation data center.

Studi Datacenter Dynamics Intelligence (DCDi) yang pernah diulas di Suara.com memaparkan bahwa akan semakin banyak end-user, utamanya manajemen dari perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce dan finansial, yang akan menanamkan investasi mereka pada colocation dan outsourcing.

Investasi pada colocation dan outsourcing ini menurut prediksi akan mencapai hingga USD 320 juta pada 2020, atau bergerak naik 83 persen dari proyeksi 2016 senilai USD 175 juta.

Infrastruktur Data Center GTN
GTN Data Center sebagai penyedia colocation, yang mulai beroperasi penuh di tahun 2016, sudah mempunyai jalinan kemitraan dengan perusahaan lokal, badan pemerintah dan internasional karena mereka melihat alih-daya infrastruktur, akan mengikuti perkembangan di bidang teknologi ini.
Dengan lokasi data center di Cikarang, GTN Data Center menyediakan infrastruktur yang bisa menjadi pemberdayaan bagi komunitas bisnis dengan standar global, handal dan carrier neutral di Jakarta dan sekitarnya.

Sejak awal dibangun dengan konsep green data center, GTN Data Center memiliki rancangan operasional untuk peghematan dalam konsumsi listrik untuk infrastruktur TI dan sistem pendinginan yang berbahan ramah lingkungan. Gedung dan perangkat terpasang seperti mekanikal, lighting, elektrikal, tenaga listrik cadangan dan sistem pendinginan berlaku prinsip-prinsip ramah lingkungan.

Pengamanan Data di Data Center Lokal
Keberadaan data center khususnya di Indonesia akan menjadi bagian strategis untuk melindungi keamanan data. Keamanan data menjadi hal yang sensitif bagi semua negara di dunia. Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara maju lainnya sangat memperhatikan keamanan dan perlindungan data pribadi warga negaranya.

Ini merupakan saat yang tepat untuk mempersiapkan penempatan berbagai data baik pribadi dan publik sesuai dengan klasifikasinya di data center yang berlokasi di Indonesia sehingga memberikan manfaat untuk pengembangan bisnis dan kepentingan publik.

Layanan Pendukung Data Center

Data center adalah sebuah bangunan fisik yang sudah memenuhi sejumlah syarat-syarat rekayasa teknik yang menjadi standar untuk menjadikannya layak untuk dilabeli atau diberikan kualifikasi yang menunjukkan daya dukung dan daya tahan infrastruktur dan fasilitas dalam operasi rutin maupun rencana cadangan untuk bencana dan/atau malfungsi.

Data center akan memberikan nilai tambah strategis dengan menyediakan layanan dukungan yang akan memudahkan mitranya untuk melakukan peningkatan teknologi TI yang bertujuan untuk kelancaran operasional bisnis.  Banyak layanan pendukung yang tercakup dalam TI. Sebut saja, 4 bagian utama yang sudah disediakan oleh GTN Data Center pemilik situs www.gtndatacenter.com, dalam hal ini, yaitu:

  1. Managed service
  2. Cross connect
  3. Cloud service
  4. Internet Exchange Service (IES).

Walaupun perusahaan data center menjadi mitra utama dengan perusahaan yang menyewa infrastruktur data center, tetapi ada beberapa jenis layanan pendukung yang mesti hadir untuk mendukung server untuk pemeliharaan, optimalisasi dan tingkat utilisasi yang efisien dan efektif dalam berbagai aspek.

Berikut adalah ulasan-ulasan untuk layanan pendukung data center:

1. Managed Service
Managed service menjadi salah satu strategi yang sudah dipakai selama ini dalam dunia TI. Tujuannya untuk melakukan alihdaya (outsourcing) fungsi dan proses dasar secara proaktif untuk peningkatan operasi dan memangkas ongkos.

Dikerjakan berdasarkan kebutuhan dan penyedia managed service hanya menagih berdasarkan pekerjaan yang dilakukan. Model kerjasama berdasarkan langganan atau kontrak dengan mengacu pada service level agreement (SLA) yang disepakati dengan berbagai matriks kualitas.

Dalam dunia TI, ada beberapa fungsi masuk dalam kategori managed service, seperti untuk utilisasi software khusus, manajemen sistem, data backup and recovery, network monitoring, management and security.

2. Cross Connect
Ini merupakan layanan yang disediakan untuk mendukung koneksi antara fasilitas-fasilitas yang ada dalam unit-unit yang terpisah atau berbeda dalam data center.

Cross connect merupakan jaringan yang menghubungkan antara closed rack unit yang ada atau pun private cage dengan perusahaan penyedia jaringan internet dalam lingkungan yang sama.
Proses transfer data juga menjadi lebih cepat dan efisien untuk perusahaan yang memiliki lebih dari satu closed rack unit ataupun private cage sebagai colocation server. Data center memiliki rangkaian cross-connect terpasang yang siap dihubungkan maupun instalasi baru sesuai dengan spesifikasi.  Interkoneksi antar server pun menjadi lebih cepat dengan menggunakan kabel UTP dan serat optik.

3. Cloud Service
Penyediaan cloud service bertujuan untuk mengelola dan menggunakan berbagai aplikasi yang berbasis cloud untuk pertumbuhan bisnis, menurunkan resiko dan biaya pada saat yang sama, dalam rangka percepatan time to value (Ttv). Tujuannya untuk menyederhanakan infrastruktur TI.

Public cloud sebagai bagian dari penyediaan infrastruktur TI yang multi-tenant, memberikan akses kepada perangkat server virtual melalui jaringan internet maupun khusus atau privat.

Private cloud bisa berjalan di data center dengan dukungan hyperconverged infrastructure menggunakan prakonfigurasi dan rack terintegrasi untuk prediksi perhitungan sumber daya listrik, pendinginan dan sebagainya, semuanya berjalan dalam perangkat TI yang terdedikasi.

4. Internet Exchange Service (IES)
GTN Data Center juga sudah mempunyai kapasitas teknis yang menunjang internet exchange service. Fasilitas ini penting untuk internet traffic exchange yang besar secara lokal dan global antara perusahaan-perusahaan penyedia jaringan, penyedia konten, dan operasi bisnis skala enterprise.

Koneksi ke dalam infrakstruktur data center melalui port akan memungkinkan sesama network untuk saling terkoneksi dan berbagi traffic, atau dikenal juga dengan istilah peering. Karena GTN Data Center adalah carrier neutral facility, maka biaya yang timbul merupakan bagian dari penawaran dan solusi yang diberikan oleh setiap network provider.

Hadir sebagai IES akan memberikan manfaat berupa beragam pilihan interkoneksi, multiple peering, dan transit agreement melalui single connection.

GTN Data Center sudah menyiapkan koneksi ke Indonesia Internet Exchange dengan kapasitas besar dan tanpa berbayar.

Peran dan Fungsi Colocation Data Center di Indonesia

Jakarta, (GTN, 12/8/2019) – Untuk penulisan yang baku dan benar dalam Bahasa Inggris, collocation adalah kata benda yang menggunakan huruf “l” ganda. Dalam ensiklopedia Wikipedia, istilah “collocation” didefinisikan sebagai urutan kata-kata yang timbul bersama-sama lebih sering daripada yang diperkirakan secara kebetulan. Dalam konteks ini, colocation data center menjadi salah satu urutan kata yang sudah lumrah didengar di industri data center sehingga menjadi pola atau model yang dikenali sampai saat ini. Kadang disebut juga dengan “colo”.

Pengertian Harafiah Colocation
Dalam dunia TI, colocation diartikan sebagai penempatan mesin komputer atau server di lokasi pihak ketiga dan terkoneksi dengan jaringan distribusi atau bandwidth yang tersedia. Pilihan untuk menggunakan colocation data center merupakan kombinasi konteks biaya, kehandalan operasional dan keamanan.

  1. Dalam implementasinya, ada pendekatan praktis yang bisa digunakan, yaitu:
    Pelanggan atau klien melakukan instalasi server secara mandiri di penyedia colocation dengan menggunakan tipe-tipe rak standar yang bisa dipilih.
  2. Alternatifnya, pelanggan atau klien sekaligus juga menyewa server dari operator jaringan di data center. Selain catu daya dan pendingin ke ruang server termasuk pendukung atau cadangannya yang sangat krusial disediakan oleh perusahaan data center, maka IP dan bandwidth akan disediakan oleh perusahaan operator penyedia jaringan yang beroperasi di data center.

Manfaat Bisnis Colocation Data Center

Skema colocation memberikan kepada organisasi atau perusahaan komersil dan non-komersil kapasitas fisik dan perangkat TI untuk memenuhi kebutuhan bisnis dan operasional dengan biaya yang lebih rendah atau murah. Ini merupakan bagian dari strategi bisnis dengan dukungan persyaratan teknis komputasi yang terbaik.

Pergeseran paradigma ini terjadi seiring dengan kesadaran pelaku bisnis dan pelayanan publik bahwa pengoperasian server secara independen akan dikalahkan oleh mereka yang menggunakan solusi colocation dengan semakin berkembangnya sistem berjejaring.

Colocation data center bisa berdampak pada pengurangan pengeluaran untuk operasional dan membuat fokus tim TI internal lebih banyak pada bisnis inti yang akan menolong pertumbuhan bisnis.
Memaksimalkan Colocation Server

Sebagai gambaran, colocation server ini berhubungan dengan lokasi fisik dengan infrastruktur yang berisi ruang server tersendiri, rack server, jaringan internet dan yang sedang trend, cloud computing. Semuanya ini merupakan infrastructure as a service (IAAS) yang bisa didayagunakan oleh perusahaan sebagai penyewa.

Dengan menggunakan fasilitas colocation data center, perusahaan dan pemilik bisnis bisa mendapatkan tingkat pelayanan yang tersedia selama 24/7/365 ketika server mereka bermasalah atau ketika terjadi masalah pada jam 2 subuh.

Apabila membandingkan dukungan terhadap ruang server standar dengan solusi colocation, dalam pertimbangan-pertimbangan yang ada akan terlihat jarak kualitatif dan kuantitatif antara keduanya dan dukungan tenaga ahli yang terkait dengannya. Apabila sesuai dengan kebutuhan, colocation data center juga bisa menghadirkan solusi untuk cloud service dan managed service, sebagai antisipasi.

Ruang server yang merupakan bagian dari gedung dengan peruntukan bukan data center tidak memiliki akses yang akan melindungi infrastruktur TI secara keseluruhan. Keunggulan colocation adalah sumber catu daya dan jalur listrik yang berbeda atau terpisah satu sama lainnya, dengan sistem generator ganda yang bisa berjalan terus tanpa henti dan isi ulang bahan bakar ketika beroperasi.

Sistem pendinginan juga menjadi masalah yang genting yang teratasi ketika terjadi gangguan pasokan listrik dengan dukungan UPS, yang mesti dimonitor catu daya dan batere selama 24/7.

Sistem generator dan pendinginan yang diadopsi data center selama ini adalah N + 1 dan N + N. Artinya jumlah N unit akan didukung oleh 1 unit dan N unit cadangan. Contohnya, 5 + 1 dan 5 + 5.
Colocation service ini akan memberikan rasa aman dalam keamanan server dan data serta perawatan perangkat secara berkala. Semuanya itu untuk meminimalisir down time, sampai tingkat 100%.
Data center yang terkemuka biasanya juga berfungsi sebagai backbone untuk cross connect dan internet exchange service. Pengguna colocation data center bisa terhubung dengan berbagai penyedia jaringan yang beroperasi secara nasional dan global.

Dalam hal konektivitas ini, colocation data center sangat mendukung kecepatan internet yang mumpuni dan tenaga ahli yang akan memantau lalu lintas data (data traffic) yang aktif tanpa terputus. Dan untuk koneksi tanpa putus, data center juga menerapkan solusi yang redundant.

Salah satu standar penting dalam manajemen keamanan informasi ini adalah sertifikasi ISO/IEC 27001. Pengguna colocation data center yang berakreditasi ini akan mendapatkan proses kerja, tim lapangan, dan infrastruktur yang lulus dalam uji kehandalan.

Lokasi Colocation Data Center dekat CBD

Dalam memilih perusahaan penyedia colocation data center yang tidak jauh dari ibukota negara atau pusat bisnis dengan pilihan koneksi jaringan yang optimal dan infrastruktur eksternal yang lengkap dan modern di lokasi akan memberikan keuntungan berupa biaya sewa yang kompetitif.

Selain itu, untuk perimeter data center sangat penting untuk memperhitungkan faktor resiko di lokasi yang banyak aktivitas bisnis sehingga rentan terhadap gangguan keamanan.
Dari semua pemaparan yang disampaikan di atas, colocation data center akan berada terdepan dalam menawarkan solusi dan teknologi terbaru untuk keamanan virtual dan fisik, sehingga perusahaan data center akan mengalami peningkatan permintaan colocation dalam beberapa waktu ke depan.

Pengertian Data Center

Jakarta, (GTN 8/8/2019) – Pusat data, yang merupakan terjemahan langsung dari data center, secara definisi menunjukkan suatu infrastruktur dengan berbagai fasilitasnya yang bisa menampung sistem komputer berdaya besar dengan segenap komponen penunjangnya. Hal mendasar yang banyak disebutkan adalah catu daya dan koneksi komunikasi data yang redundant, dan suhu yang terjaga sepanjang waktu (HVAC).

Data center dalam pengertian yang dilansir dari berbagai sumber, harus memiliki rancang bangun yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang meliputi aspek teknik sipil bangunan dan aspek teknis operasional, sehingga penempatan perangkat server di lokasi tersebut menghadirkan kenyamanan dan keamanan sehingga selalu mudah diakses oleh pengguna fasilitas yang berwenang maupun komunikasi data. Sistem keamanan yang ketat dan monitoring 24/7 lingkungan sekitarnya.

Peran Ideal Data Center untuk Bisnis dan Organisasi

Penggunaan data center yang dikelola oleh perusahaan IT yang profesional bertujuan untuk mencapai hal-hal dibawah ini:

  1. Operasional yang berkelanjutan atau tanpa henti bagi perusahaan atau organisasi yang menjadi penggunanya, dalam kondisi operasional biasa maupun ketika terjadi keadaan yang tidak normal. Untuk itu down time akibat kerusakan jaringan atau perangkat diupayakan berada di titik nol (zero failure).
  2. Skala dan fleksibilitas. Ini merupakan manfaat strategis yang bisa didapatkan ketika pertumbuhan bisnis menuntut adaptasi yang cepat dan kebutuhan yang meningkat atau adanya layanan baru yang diluncurkan.
  3. Keamanan. Ini merupakan pengamanan fisik dan non-fisik yang dilakukan untuk kompleks dan perangkat dan data yang tersimpan.

Service Level Data Center

Kinerja dan kemampuan unjuk kerja sebuah data center diukur berdasarkan standarisasi yang berlaku di Indonesia dan dunia internasional.

Perusahaan yang mengelola pusat data akan dimasukkan pada setiap kategori antara TIER 1, TIER 2, TIER 3 dan TIER IV, yang berkaitan dengan pasokan atau suplai listrik yang ada. Dalam perkembangan saat ini, juga dipakai dengan istilah RATED 1, RATED 2, RATED 3 dan RATED 4.

Rated 3 atau TIER 3 merupakan tingkat ketersediaan yang banyak diadopsi industri data center saat ini. Dalam kategori ini, sudah harus tersedia multiple active power dan cooling distribution path, tetapi hanya 1 path (jalur) yang aktif, termasuk komponen untuk redundant (N+1). Tingkat ketersediaan, 99,982%.

Dengan demikian, ketika data center harus menjalani preventive maintenance, sudah tersedia kapasitas tambahan dan distribusi yang cukup untuk menampung beban dari distribusi utama ketika sistem harus menjalani pemeliharaan berkala.

Berbicara tentang suplai listrik cadangan, data center rated 3 sudah harus terpasang dengan generator listrik cadangan. Teknologi yang dipakai adalah diesel rotary uninterruptible power supply (DRUPS).

Dengan DRUPS, suplai listrik tidak terputus ketika suplai listrik beralih dari pusat pembangkit listrik dari perusahaan eksternal ke genset. Biasanya sebuah DRUPS memiliki bahan bakar yang bisa menanggung beban listrik untuk beberapa hari bahkan mingguan ketika pasokan listrik dari distribusi utama terhenti.

Standar operasi pemeliharaan atau pengujian terhadap DRUPS diperlukan untuk menjaga kesiapsiagaannya karena adanya komponen pengerak dalam mesin.

Sertifikasi untuk Data Center

Perusahaan data center merupakan perusahaan yang sudah memenuhi kriteria yang dipersyaratkan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh lembaga berkompeten yang memberikan sertifikasi atas aspek-aspek tertentu.

Untuk masa kini dan mendatang, bangunan yang ramah lingkungan (green building) menjadi salah satu syarat awal yang penting untuk keberadaan data center dengan lingkungan sekitarnya.

Green Building Council Indonesia (GBCI) merupakan lembaga internasional yang memberikan sertifikasi untuk bangunan yang mulai dari kontruksi sampai operasional memberikan dampak yang baik dalam produktivitas, kenyamanan dan kesehatan bagi penghuni gedung maupun efisiensi dan optimalisasi dalam konsumsi energi dan pemanfaatan ruang.

Untuk keamanan data transaksi yang berkaitan dengan finansial menjadi sebuah tolok ukur apakah sebuah pusat data (data center) mempunyai kualitas tinggi dalam memberikan rasa aman kepada penggunanya.

Dalam hal ini, sertifikasi yang dikeluarkan oleh Payment Card Industry Data Security Standard (PCI DSS) bisa menjadi acuan bagaimana perusahaan data center sudah memikirkan dan mengimplementasikan serangkaian pertahanan diri yang mencakup jaringan, endpoint dan aplikasi. Rangkaian ini terdiri dari sumber daya manusia yang ahli, proses dan teknologi yang saling mengisi dan bekerja dengan harmonis.

Pasar Data Center di Indonesia dan Potensinya

Secara umum, siapapun atau institusi manapun yang memerlukan pengelolaan dan penyimpanan data yang tinggi dan terjaga serta dukungan koneksi yang stabil dan aman butuh data center. Kontrak sewa merupakan solusinya.

Di Indonesia, badan pemerintahan, lembaga keuangan dan perusahaan publik dan besar nasional dan multinasional merupakan pengguna setia layanan data center.

Ke depannya, kedaulatan digital dan kerahasian data pribadi apabila diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional, maka data pribadi perorangan penting untuk menjadi perhatian penyimpannya berada di data center di Indonesia.

Seiring dengan pertumbuhan ecommerce dan layanan konsumen berbasis aplikasi dan perangkat mobile, big data dan IoT menjadi sumber data penting yang diperlukan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri tersebut untuk melakukan konsolidasi data dan akses yang lebih cepat apabila diletakkan di data center yang terletak di Indonesia.

Pengertian data center yang disajikan ini bertujuan memberikan informasi awal yang praktis untuk penyedia seperti GTN yang berlokasi di Cikarang, tetapi juga untuk Jakarta dan sekitarnya.

Copyright 2019 Graha Teknologi Nusantara.