Sejarah Singkat Indonesia Internet Exchange (IIX)

Pertumbuhan jaringan internet di Indonesia memerlukan manajemen yang baik untuk mengiringinya sehingga bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia yang besar populasinya dan tersebar di seantero wilayah nusantara, sehingga lahirlah konsep Indonesia Internet Exchange (IIX) ini.

Dalam Wikipedia menyebutkan, Indonesia Internet Exchange (IIX) merupakan wadah untuk menyatukan seluruh jaringan yang dioperasikan oleh internet service provider (ISP) sehingga tidak mesti melalui jalur-jalur transit yang terhubung ke luar negeri tetapi kemudian kembali lagi ke jaringan Indonesia. Dikatakan bahwa ini merupakan konsep yang pertama kali di dunia.

Sejarah Berdirinya APJII

APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) menjadi kelembagaan yang mengatur soal IIX ini secara sukarela dan nirlaba untuk membentuk jaringan interkoneksi antara berbagai ISP yang mempunyai izin operasi di Indonesia, dengan peningkatan fasilitas dan kemampuan sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Di Juni 1996, APJII membentuk gugus tugas yang terdiri dari teknisi top dari masing-masing ISP dan Cisco untuk mengembangkan internet exchange sehingga semua ISP yang ada terhubung secara tunggal (single internet exchange point) dan IIX secara resmi diluncurkan pada Agustus 1997.

APJII ini terbentuk dari 27 ISP yang mendapat lisensi dari pemerintah Indonesia dan Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung di Maret 1996 dan bekerja sama dengan regulator, yang menerbitkan Tarif Konektivitas Internet untuk pengguna akhir pada Mei 1996 dan berlaku sampai hari ini.

Dukungan Pelaku Industri Internet

Sasaran yang ingin dicapai dengan adanya IIX antara lain:

  1. Efisiensi interkoneksi antar penyelenggara jasa internet (PJI) di dalam negeri dalam hal biaya dan kecepatan untuk lalu lintas informasi nasional.
  2. Kemandirian dalam hal kendali penuh atas jaringan dan koneksi alternatif ketika jaringan ke luar negeri mengalami masalah.
  3. Jaringan pita lebar yang tinggi yang tersedia diharapkan menjadi insentif bagi penyedia konten (content provider) dalam dan luar negeri untuk menempatkan datanya di data center dalam negeri.

Penyelenggara jasa internet Indonesia menyediakan koneksi ke internet melalui tiga perusahan Indonesia Network Provider (INP) yaitu: Telkom, Indosat dan Satelindo, yang berpusat di Jakarta.

Dengan tiga titik simpul, penyelenggara jaringan internet (PJI) mempunyai kehandalan dalam keterhubungan dengan jaringan yang ada, dalam hal salah satu titik simpul mengalami masalah dan PJI mempunyai pilihan untuk terhubung dengan titik simpul yang terdekat.

Karena APJII bersifat mandiri tanpa pendanaan dari pemerintah, organisasi ini memerlukan pendanaan dari pihak-pihak eksternal, melalui sponsorship dari vendor teknologi internasional untuk kebutuhan seperti router, switch, hub, server dan software, yang antara lain disediakan oleh Cisco, Hewlett Packard, Microsoft, RAD dan Digital. IP exchange blocks for routing disediakan oleh Bill Manning dari isi.edu.

Pencapaian yang sudah didapatkan dari adanya IIX ini adalah jarak antara ISP di Indonesia yang tadinya 12 hops berkurang menjadi hanya 4 hops. Hop mengacu pada jumlah perangkat perantara (router) dimana paket data lewat dari sumber ke tujuan.

Pertumbuhan Domain Indonesia

Domain atau nama di internet yang khas Indonesia yaitu .id merupakan salah satu indikasi bertumbuhnya perusahaan dan mereka yang ingin terhubung ke internet, yang berkaitan dengan pertumbuhan server internet lokal dan pengguna internet di Indonesia.

Sebelum hadirnya IIX, antara Januari 1995 – Agustus 1997, ada terdapat 740 domain, dengan rata-rata pertumbuhan 23 domain per bulan.

Sementara antara Agustus 1997 – Desember 1997, dengan diluncurkannya IIX, jumlah domain melonjak dari 740 menjadi 1053, atau rerata 171 domain per bulan.

Ketika Indonesia didera krisis moneter sepanjang 1998, pertumbuhan domain korporasi malah menunjukkan peningkatan sebesar 100%, dari 1053 menuju 2115.

Ini menjadi salah satu indikasi kalau domain yang terhubung dengan IIX merupakan alternatif untuk melewati krisis.

Padahal, top level domain Indonesia yang dipakai pada waktu itu berakhiran co.id menerapkan persyaratan yang lebih ketat dibanding dengan pendaftaran berakhiran .com. Hanya perusahaan yang menyerahkan persyaratan lengkap bisa mengajukan nama domain yang sama seperti nama legal perusahaan.

IDNIC (Indonesian National Internet Registrar) merupakan organisasi yang awalnya berada dibawah Universitas Indonesia, dengan penugasan untuk menerima pendaftaran secara profesional dan bertanggung jawab untuk memberikan alokasi IP di Indonesia.

Saat ini, PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) hasil bentukan komunitas internet Indonesia bersama pemerintah Indonesia pada 29 Desember 2006 untuk registrasi domain .id.

Secara resmi, Departemen Komunikasi dan Informatika RI pada 16 September 2014 menyerahkan seluruh pengelolaan domain internet di Indonesia kepada PANDI, dengan pengecualian ekstensi .go.id dan .mil.id, sebagai registry nama domain tingkat tinggi di Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, Pandi sudah mengelola berbagai domain ekstensi Indonesia, yaitu domain go.id, ac.id, net.id, sch.id, biz.id, desa.id, my.id, net.id, or.id, mil.id, web.id, dan ponpes.id.

Dalam perkembangan terkini per 2019, jumlah pengguna domain .id mengalami peningkatan sebesar 45 persen sehingga mencapai total nama 135.812.

Data di Pandi per April 2019, mencapai 111.059. Jumlah ini sudah menyalip pengguna domain co.id yang tercatat 110.111. Selain karena kemudahan administrasi untuk pendaftaran .id dibanding co.id, penggunaannya juga bisa lebih luas segmennya, mulai dari personal, perusahaan, organisasi, profesional dan lain sebagainya, untuk Indonesia dan luar negeri.